BRIEF.ID – Indeks di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Tiga indeks utama ditutup di teritori negatif meskipun pelemahannya berkurang dibandingkan awal sesi. Indeks Dow Jones Dow ditutup turun 400 poin setelah sehari sebelumnya jatuh 1.200 poin disaat berlanjutnya konflik Iran.
Perang yang meluas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sentimen memburuk karena kekhawatiran konflik di Timur Tengah semakin meluas.
Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, diserang oleh drone Iran, begitu pula pusat data Amazon di Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Bahrain, sebagai balasan Iran dengan melancarkan serangan di beberapa negara tetangga.
Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan evakuasi personel pemerintah AS dan anggota keluarga yang bukan dalam keadaan darurat dari Bahrain, Irak, dan Yordania.
Ada potensi perang ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan AS. Guncangan inflasi akibat konflik tersebut merupakan poin utama yang menjadi perhatian investor, terutama karena harga minyak naik tajam akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Pasar khawatir bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat mendorong inflasi di seluruh dunia dan memicu pandangan yang lebih agresif dari bank sentral utama. Risiko lainnya adalah apakah hal ini dapat meluas menjadi konflik yang lebih besar dengan melibatkan Tiongkok atau Rusia. Kenaikan harga minyak telah memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Menurut CME FedWatch, kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps kini telah bergeser ke bulan Juli 2026.
Obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 1 bps ke level 4,063%. Harga emas spot melemah 3,3% di level US$ 5.150 per troy ons. Harga emas melemah karena beberapa investor lebih memilih dolar daripada emas sebagai aset safe haven serta karena melemahnya ekspektasi penurunan suku bunga mengingat kekhawatiran inflasi. Harga minyak WTI naik 4,3% di level US$ 74,56 per barel pada Selasa (3/3/2026), setelah sempat menguat lebih tinggi. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan memberikan asuransi kepada kapal tanker di Teluk Persia untuk melancarkan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz. (nov)


