Kontrak Berjangka AS Anjlok

BRIEF.ID – Saham-saham di bursa Eropa sebagian besar turun dan kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) merosot tajam, pada perdagangan  Senin (19/1/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan 10% atas  impor dari delapan negara Eropa. Ancaman itu dilontarkan karena Trump menuding bahwa delapan negara itu  menentang AS  mengambil alih kendali Greenland.

Indeks DAX Jerman turun 1,3% menjadi 24.960,33 dan CAC 40 di Paris turun 1,9% menjadi 8.101,96. FTSE 100 Inggris turun 0,4% menjadi 10.190,26.

Di antara kontrak berjangka saham AS, S&P 500 turun 1% pada pukul 11:48 pagi Waktu Bagian Timur, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,8% dan Nasdaq composite turun 1,2%. Pasar saham AS tutup  untuk memperingati Hari Martin Luther King Jr, Senin (19/1/2026).

Dikutip dari Associated Press, Trump mengatakan pada  Sabtu (17/1/2026)  akan mengenakan pajak impor sebesar 10% mulai Februari 2026 untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia karena menentang  AS mengendalikan Greenland.

Negara-negara Eropa yang menjadi sasaran, mengecam Trump dengan  mengatakan bahwa hal itu akan “merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral penurunan yang berbahaya.” Pernyataan bersama yang luar biasa kuat ini merupakan teguran paling keras dari sekutu Eropa sejak Trump kembali ke Gedung Putih hampir setahun yang lalu.

Langkah-langkah Trump menguji keselarasan strategis dan kepercayaan institusional yang mendasari dukungan dari Eropa, mitra dagang terbesar dan penyedia pembiayaan terbesar bagi AS, kata Stephen Innes dari SPI Asset Management.

“Di dunia di mana kohesi geopolitik dalam aliansi Barat tidak lagi dianggap sebagai hal yang pasti, kemauan untuk terus menerus menginvestasikan kembali modal ke aset AS menjadi kurang otomatis. Ini bukan cerita likuidasi jangka pendek. Ini adalah cerita penyeimbangan kembali yang lambat, dan itu jauh lebih penting,” kata Innes.

Di Asia, pergerakan saham beragam setelah Tiongkok melaporkan bahwa ekonominya tumbuh dengan laju tahunan 5% pada tahun 2025, meskipun melambat pada kuartal terakhir. Ekspor yang kuat, meskipun ada tarif impor yang lebih tinggi dari Trump terhadap barang-barang dari Tiongkok, membantu mengimbangi permintaan domestik yang relatif lemah. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Juda Agung Mengundurkan Diri, Gubernur BI Ajukan Calon Pengganti Kepada Presiden

BRIEF.ID - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo telah...

IHSG Berpotensi Ciptakan Level Tertinggi Baru

BRIEF.ID –Penguatan saham-saham bank besar mendorong Indeks Harga Saham...

Kemendagri Kembalikan Dana Transfer 3 Provinsi Terdampak Banjir dan Longsor

BRIEF.ID - Kementerian Dalam Negeri telah mengembalikan dana transfer...

Presiden Prabowo Tiba di London

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto tiba di London, Inggris...