Konflik Timur Tengah Berlanjut, Pergerakan IHSG Diperkirakan Terbatas

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih terbatas seiring fokus perhatian kalangan investor pada konflik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan  Amerika Serikat (AS) – Israel dan  Iran sejak pada 28 Februari 2026, sampai kini belum ada solusinya.

Riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Senin (6/4/2026) pagi menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 7.100, pivot  7.000, dan support  6.900 setelah turun 157,66 poin atau 2,19% pada penutupan perdagangan, Kamis (2/4/2026).

“Diperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 6.900-7.000,” kata riset itu.

Saham-saham yang dapat diperhatikan, pada perdagangan sepanjang pekan ini, di antaranya MAIN, MNCN, TOWR, MIDI, NISP, dan BNGA.

Perdagangan di BEI, pada Jumat (3/4/2026) ditutup karena hari libur Jumat Agung. Demikian juga aktivitas di Bursa Wall Street, libur pada Jumat (3/4/2026). Indeks di Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Kamis (2/4/2026).

Indeks bergerak fluktuatif di tengah kenaikan harga minyak mentah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang dengan Iran masih akan berlanjut hingga beberapa pekan mendatang.  Indeks berbalik dari koreksi tajam setelah diberitakan Iran bekerja sama dengan Oman  untuk memantau kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Di sisi lain, intensitas perang semakin meningkat di mana Iran menembak jatuh dua pesawat tempur AS dan adanya serangan rudal di dekat fasilitas PLTN Iran. Sementara itu, data nonfarm payrolls mencapai 178 ribu pada Maret 2026, terbanyak sejak Desember 2024, setelah revisi penurunan sebesar 133 ribu pada Februari 2026. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%.

Perkembangan konflik di Timur Tengah akan tetap menjadi fokus pada pekan ini. Investor   akan terus menilai prospek de-eskalasi atau justru terjadi eskalasi yang berkepanjangan. Investor juga akan mencermati perkembangan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden Trump memperingatkan Iran batas waktu 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi eskalasi militer besar-besaran. Dari data ekonomi AS, akan dirilis FOMC minutes, inflasi, ISM service PMI, pembacaan awal Mich. Sentiment, dan inflasi PCE.

Di dalam negeri,  dijadwalkan akan dirilis data cadangan devisa pada Rabu (8/4/2026), serta indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif, Jumat  (10/4/2026). Diperkirakan apabila  perang marih berlarut-larut maka berpotensi akan membuat harga minyak mentah di level tinggi dalam waktu yang lama.

Kemelut ini apabila terus berlangsung, dikhawatirkan defisit APBN akan semakin melebar ditambah lagi Pemerintah menambah subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) tanpa merelokasi pos anggaran lainnya. Hal ini  berpotensi terjadi capital outflow dan berlanjutnya depresiasi Rupiah.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indeks Berjangka Turun Ditopang Laporan Pekerjaan Maret 2026

BRIEF.ID – Kontrak berjangka Amerika Serikat (AS) diperdagangkan sedikit...

Presiden Prabowo: Selamat Paskah

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto mengucapkan Selamat Paskah...

Prabowo Kecam Keras Tindakan Keji Tewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto mengecam keras tindakan keji...

Jet Tempur AS Gempur Iran

BRIEF.ID – Jet-jet tempur F-15 Amerika Serikat (AS) dilaporkan...