BRIEF.ID – Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan relatif solid pada tahun fiskal 2025 dengan penjualan bersih meningkat menjadi Rp 31,94 triliun atau naik 4,31% year-on-year (YoY).
Dikutip dari riset Phintraco Sekuritas, Kamis (12/2/2026), laba bruto tumbuh moderat sekitar 3,00% YoY menjadi Rp 14,99 triliun, dengan margin laba kotor yang relatif stabil di kisaran 46,9% dibandingkan dibandingkan 47,5% pada tahun fiskal 2024), sejalan dengan tekanan biaya yang masih terkendali.
Dari sisi struktur biaya, beban pemasaran dan penjualan turun -3.57% YoY dan beban umum & administrasi menurun 3,29% YoY, yang mendorong laba usaha naik signifikan menjadi Rp 4,59 triliun atau naik 20,60% YoY dengan margin laba operasi meningkat ke level 14,37% dibandingkan 12,43% pada tahun fiskal 2024.
Dari sisi bottom line, laba bersih tercatat sebesar Rp7,64 triliun atau naik 126,84% YoY. Kenaikan signifikan itu lebih ditopang keuntungan divestasi segmen ice cream (Magnum & Walls), yang bersifat non-recurring. Oleh karena itu, jia mengecualikan faktor tersebut, laba bersih hanya tumbuh 21,78% YoY menjadi Rp3,54 triliun.
UNVR berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih menarik pada Kuartal I-2026 seiring banyaknya momentum hari besar keagamaan seperti Ramadhan, Imlek, dan Nyepi yang historis mendorong peningkatan konsumsi, khususnya pada kategori kebutuhan rumah tangga.
Pola musiman ini umumnya berdampak positif terhadap volume penjualan namun efektivitasnya tetap perlu dicermati mengingat daya beli masyarakat yang masih menghadapi tekanan, sehingga keberlanjutan kinerja akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan menjaga strategi harga, inovasi produk, dan stabilitas volume di tengah dinamika konsumsi domestik.
Saat ini, UNVR diperdagangkan pada PER sebesar 24,48x, sedikit di atas rata-rata lima tahunnya sekitar 21,30x. Valuasi yang relatif premium ini mencerminkan persepsi pasar terhadap stabilitas kinerja perusahaan dan posisi merek yang kuat di pasar.
Namun kinerja perseroan tetap berpotensi menghadapi tekanan seiring dengan tekanan terhadap daya beli konsumen dan potensi dampak isu boikot yang dapat memengaruhi kinerja jangka pendek. (nov)


