BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (13/3/2026) diperkirakan masih akan bergerak melemah menyusul kenaikan harga minyak bumi Brent yang selama ini menjadi patokan pemerintah untuk penentuan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Kenaikan harga minyak bumi yang dikhawatirkan berpotensi memberikan tekanan fiskal yang signifikan terhadap Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026, serta masih melemahnya rupiah diperkirakan dapat menjadi batu sandungan untuk kenaikan IHSG.
Harga minyak Brent untuk pengiriman bulan April pagi ini berada dikisaran US$ 101,75 per barel, naik 9,2%, dan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 9,7% ke angka US$ 96,42 per barrel.
Kenaikan harga minyak mentah sebagai dampak semakin tingginya tensi perang Iran, juga berpotensi meningkatkan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini membuat hampir semua indeks pasar saham utama dunia terkoreksi tajam. Tiga indeks Utama pasar saham Wall Street, ditutup anjlok rata-rata di atas 1,5%.
Kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi dan pelemahan rupiah telah mendorong pelaku pasar untuk memprediksi Bank Indonesia (BI), pada 16-17 Maret 2026 untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan yang saat ini berada diangka 4,75%.
Inflasi di Atas Target
Inflasi bulan Februari 2026 di Indonesia tercatat naik 4,76% secara tahunan, atau di atas target atas BI pada 3,5%. Situasi ini menciptakan real interest rate di Indonesia menjadi minus 0,01% yang tampaknya menjadi angka yang kurang menarik untuk menarik modal asing.
Dari AS nanti malam akan diumumkan angka pertumbuhan ekonomitahu kuartal ke empat tahun 2025 yang diprediksi naik secara tahunan sebesar 1,4%. Selain itu, akan juga diumumkan indeks Personal Consumption Expenditure (PCE) untuk bulan Februari 2026 yang diperkirakan akan naik 0,4%. JIka PCE indeks naik lebih dari konsensus akan membuat mata uang dolar AS semakin menguat, dan sebaliknya.
Nilai tukar Rupiah, Kamis (12/3/2026) ditutup di angka 16.875 per Dolar AS, sedikit melemah dari 16.861 per Dolar AS, Rabu (11/3/2026).
Harga spot emas, Jumat (13/3/2026) pagi turun 1,6% di angka US$ 5.097 per troy ons. Harga batubara untuk pengiriman bulan April 2026 naik 2,9% menjadi US$ 138,75 per metrik ton, dan nikel naik 0,25% ke angka US$ 17.765 per ton.
Saham Unggulan
IHSG diperkirakan akan bergerak antara support flow 7.278-7.261 dan resistance flow 7.428-7.340.
Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya MEDC, yang dapat dibeli di harga 1.680-1.880. Laba bersih MEDC untuk periode Januari-Maret 2026 (Kuartal 1) 2026 berpotensi menyentuh angka US$ 26 juta, naik 44% dari US$ 18 juta di kuartal yang sama tahun lalu, yang didorong kenaikan pendapatan akibat kenaikan harga minyak bumi. Target Price MEDC adalah 2.400.
ENRG, yaitu di angka 1.400-1.675. Portofolio ENRG didominasi gas alam, yaitu sekitar 65%-70%, dan sisanya adalah minyak bumi yang memiliki biaya produksi per barel lebih efisien dari MEDC di kisaran US$ 5 – US$ 7. Target Price ENRG adalah 1.700.
Cermati juga saham-saham ANTM (3.760-3.970), BRMS (775-860), BUMI (210-260), SOLA (114-148), TLKM (2.970-3.220), AKRA (1.200-1.380), dan COAL (60-78).
Penulis: Edhi Pranasidhi/ Founder Indonesia Superstock Community


