BRIEF.ID — Pemerintah kian memperketat sabuk pengawasan terhadap volatilitas harga komoditas pangan.
Langkah ini diambil sebagai strategi utama untuk menjaga daya beli masyarakat tetap ajek di tengah tren kenaikan inflasi yang mulai membayangi pada penghujung tahun.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa koordinasi rutin antara pusat dan daerah menjadi kunci agar angka inflasi nasional tidak melompat dari relnya.
Meskipun secara agregat masih terkendali, pemerintah kini memasang mode waspada tinggi terhadap arah pergerakan harga.
“Inflasi ini bisa terkendali karena kita konsisten rapat tiap minggu,” tutur Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Rabu (28/1).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (y-o-y) pada bulan Desember 2025 mendarat di level 2,92%.
Angka ini memang masih berada dalam koridor target pemerintah yang mematok batas atas 3,5%. Namun, yang menjadi catatan tebal bagi Kemendagri adalah adanya kenaikan tipis jika dibandingkan dengan posisi November 2025 yang sebesar 2,72%.
Eks Kapolri tersebut mengingatkan bahwa jika angka tersebut terus merangkak dan menembus batas psikologis, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling terhimpit.
Transmisi kenaikan harga pada kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, hingga protein hewani bisa langsung melumpuhkan ekonomi harian warga.
“Harga beras naik misalnya, harga minyak naik, harga telur naik, daging naik, ikan naik. Itu di kelas yang setiap harinya mendapatkan penghasilan harian, mereka akan sangat terasa sekali kesulitannya,” katanya.
Menariknya, Tito menyoroti andil besar emas perhiasan dalam menyumbang angka inflasi nasional. Menurutnya, dinamika global yang memanas telah memacu harga logam mulia hingga menyentuh level Rp3 juta per gram di pasar domestik.
“Artinya tren naik. Nah, ini kita harus hati-hati,” ujarnya
Lantaran harga emas dikendalikan oleh mekanisme pasar dunia yang sulit diintervensi, pemerintah memilih untuk memperkuat bantalan di sektor yang bisa dikontrol yaitu sektor pangan.
“Makanya kita harus bermain di faktor yang lain. Terutama makanan yang terasa oleh masyarakat itu adalah makanan, minuman, itu nomor 1,” tuturnya. (ayb)


