BRIEF.ID – Kekhawatiran dampak perang Iran yang berkepanjangan diprediksi menjadi sentimen negatif pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (4/3/2026).
“IHSG breaklow dari level psikologis 8000 dan dari MA200. Pembentukan histogram negatif oleh MACD dan pergerakan Stochastic RSI yang mengarah ke bawah di area pivot, mengindikasikan penurunan IHSG masih berpotensi berlanjut,” demikian hasil riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Rabu (4/3/2026).
Riset Phintraco Sekuritas menyatakan, IHSG akan bergerak pada resistance 8.100, pivot 8.000, dan support 7.800. Saham-saham yang diunggulkan di antaranya, JPFA, ISAT, HUMI, SIDO, dan TAPG.
Disebutkan, apabila support IHSG di level 7.860 tertembus, diperkirakan akan menguji support berikutnya di kisaran 7.700-7.800.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 7.939,77 atau turun 0,96% pada perdagangan Selasa (3/3/2026). IHSG sempat rebound pada awal sesi, namun berbalik melemah menembus di bawah level 8.000.
Diberitakan perang AS-Iran berkembang cepat, memasuki hari keempat, Kantor Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, diserang oleh Iran, pada (3/3/2026). Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa perang Iran dapat berlangsung lebih lama dari empat pekan, seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Perang juga dikhawatirkan akan meluas karena Israel mengatakan secara bersamaan menargetkan Iran dan Lebanon, setelah kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone.
Sementara itu, mayoritas indeks bursa Asia bergerak melemah, pada Selasa (3/3/2026) dan indeks di bursa Eropa dibuka di teritori negatif, seiring meningkatnya tekanan risiko geopolitik. Indeks futures di Wall Street juga bergerak melemah. Investor global menghindari aset-aset berisiko termasuk saham.
Harga emas futures bergerak menguat sekitar 0,52%, namun harga emas spot melemah 0,25% meskipun masih di sekitar level US$ 5.300 per troy ons, pada Selasa (3/3/2026). Harga minyak WTI menguat hampir 3% di atas level US$ 74 per barel, sedangkan harga minyak Brent menguat lebih dari 3% di atas level US$ 81 per barel.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan gejolak di pasar energi global, dengan negara-negara di Asia diperkirakan akan menghadapi dampak paling besar. Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur perdagangan minyak global, di mana sekitar 13 juta bpd melewati selat tersebut pada tahun 2025, atau mewakili sekitar 31% dari seluruh aliran minyak mentah melalui laut.
Penutupan selat tersebut secara berkepanjangan diperkirakan akan menimbulkan kenaikan harga minyak mentah lebih lanjut, yang dapat mendorong kenaikan inflasi. (nov)


