BRIEF.ID – Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap target keamanan Iran dan Hizbullah di Beirut, setelah Teheran mengancam akan melancarkan “penghancuran total infrastruktur militer dan ekonomi kawasan” di tengah perang yang meningkat pesat.
Militer Israel mengatakan telah menghantam bangunan-bangunan di Iran milik Basij, sayap polisi sukarelawan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan bangunan-bangunan milik pasukan keamanan internal. Kantor polisi dan markas besar IRGC di wilayah Kurdi di barat laut Iran juga hancur akibat serangan itu, menurut laporan media Kurdi.
Struktur keamanan Iran berperan penting dalam menekan gerakan protes di masa lalu, dan Amerika Serikat (AS) mendesak warga Iran untuk menggulingkan pemerintah negara itu. Washington juga dilaporkan telah menjajaki kemungkinan menggunakan kelompok separatis Kurdi untuk menyerang sebagian wilayah Iran dan mendirikan zona aman di kelompok-kelompok yang mayoritas Kurdi di barat laut.
Dimensi regional konflik terus meluas, ketika Iran menyerang negara-negara Teluk dan Hizbullah menembaki Israel dan Siprus.
Turki mengatakan pertahanan udara NATO telah mencegat rudal balistik yang menuju wilayah udaranya, dan AS mengatakan telah menenggelamkan kapal perang Iran di Samudera Hindia. Otoritas Sri Lanka mengatakan setidaknya 87 orang tewas dan 32 diselamatkan. Diperkirakan ada 180 orang di dalam kapal tersebut.
Drone juga dilaporkan terlihat di dekat bandara Baghdad dan ledakan terdengar di Irbil, ibu kota Kurdistan Irak.
Jumlah korban tewas di Iran melonjak dan diperkiraan jumlah korban tewas akibat serangan dalam lima hari perang itu meningkat menjadi sekitar 1.045 dan 1.500 orang.
Perang Lebih Lama
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Rabu (4/3/2026) mengisyaratkan jangka waktu konflik yang lebih lama daripada yang sebelumnya diutarakan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Disebutkan, konflik tersebut dapat berlangsung selama delapan minggu tetapi AS memiliki amunisi dan peralatan untuk mengalahkan Iran dalam perang itu.
“Anda bisa mengatakan empat minggu, tetapi bisa enam, bisa delapan, bisa tiga minggu. Pada akhirnya, kita yang menentukan kecepatan dan temponya,” kata Hegseth.
Perdana Menteri (PM) Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Teheran. Ini adalah komunikasi tingkat tinggi pertama sejak Republik Islam Iran meluncurkan kampanye rudal dan drone. Al Thani menuduh Iran berupaya untuk menyakiti negara-negara tetangganya dan menyeret mereka ke dalam perang yang bukan urusan mereka.
Negara-negara Teluk telah menanggung sebagian besar respons Teheran sejak AS dan Israel meluncurkan kampanye udara besar-besaran terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Tiga belas orang, tujuh di antaranya warga sipil, telah tewas di negara-negara sekitar Teluk sejak perang dimulai.
Hal ini terjadi ketika IRGC mengatakan akan terus menyerang sekutu AS di seluruh wilayah tersebut.
“Kejahatan dan penipuan yang terus-menerus dilakukan oleh Amerika Serikat di wilayah tersebut akan mengakibatkan kehancuran total infrastruktur militer dan ekonomi wilayah tersebut,” demikian pernyataan IRGC kepada media pemerintah. (The Guardian/nov)


