BRIEF.ID – Iran mengancam menutup total Selat Hormuz, jika Amerika Serikat (AS) menyerang infrastruktur penting negara itu seiring berkobarnya perang di Timur Tengah, yang kini memasuki pekan keempat. Iran tidak sepenuhnya menutup total Selat Hormuz, tetapi situasinya sangat tegang dan sebagian akses dibatasi.
Pada Minggu (22/3/2026), Iran menyatakan Selat Hormuz, jalur yang sangat penting untuk seperlima lalu lintas ekspor minyak dunia akan “ditutup total jika AS menindaklanjuti ancaman Presiden Donald Trump untuk menyerang pembangkit listrik di negeri itu. Trump pada Sabtu (21/3/2026) malam menetapkan batas waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz.
Para pemimpin Israel diberitakan telah mengunjungi salah satu dari dua komunitas di selatan dekat lokasi penelitian nuklir rahasia, yang dihantam rudal Iran pada Sabtu (21/3/2026) malam, dengan puluhan orang terluka. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan itu adalah “keajaiban” tidak ada yang tewas. Israel mendeteksi lebih banyak rudal Iran yang ditembakkan ke arah daerah itu, pada Minggu (22/3/2026) malam.
Netanyahu mengklaim Israel dan AS sedang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan perang, yaitu melemahkan program nuklir Iran, program rudal, dan dukungan untuk proksi bersenjata hingga memungkinkan rakyat Iran menggulingkan teokrasi.
Perkembangan itu menandakan perang, yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, bergerak ke arah baru yang berbahaya, meskipun Trump berkomentar pekan lalu akan mempertimbangkan untuk “mengakhiri” operasi. Perang di Iran telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, mengguncang ekonomi global, dan menyebabkan harga minyak melonjak.
Hizbullah yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan udara yang menewaskan seorang pria di Israel utara, sementara Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut penargetan jembatan di selatan oleh Israel sebagai “pendahuluan untuk invasi darat.”
Pembangkit Energi dan Desalinasi
Iran praktis telah menutup Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan seluruh dunia, seraya menyatakan Selat Hormuz merupakan jalur aman bagi kapal-kapal dari negara-negara yang bukan musuhnya.
Sebaliknya, Trump mengatakan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz, AS akan menghancurkan “berbagai pembangkit listriknya, dimulai dari yang terbesar terlebih dulu!”
AS berpendapat bahwa Garda Revolusi Iran telah mengendalikan sebagian besar infrastruktur negara dan menggunakannya untuk mendukung upaya perang. Menurut hukum internasional, pembangkit listrik yang bermanfaat bagi warga sipil hanya dapat dijadikan target jika keuntungan militer lebih besar daripada penderitaan yang ditimbulkannya, kata para ahli hukum.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menanggapi di X bahwa jika pembangkit listrik dan infrastruktur Iran menjadi target, maka infrastruktur vital di seluruh wilayah, termasuk fasilitas energi dan desalinasi penting untuk air minum di negara-negara Teluk — akan dianggap sebagai target yang sah dan “dihancurkan secara permanen.” (Associated Press/nov)


