BRIEF.ID – Eskalasi ketegangan global akibat penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores di Caracas, menjadi fokus pelaku pasar modal, pada pekan ini.
Laporan Phintraco Sekuritas yang dirilis, Senin (5/1/2026) menyebutkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bergerak pada resistance 8.800, pivot 8.700, dan support 8.600 setelah indeks di bursa Wall Street ditutup mixed, pada perdagangan pertama tahun 2026, Jumat (2/1/2026).
Penguatan didorong kenaikan pada saham produsen chip, namun melemahnya saham sektor teknologi di luar chip membebani indeks. Sementara itu, pemberitaan terus menggema mengenai AS menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela bersama istrinya untuk didakwa di New York, AS atas tuduhan terorisme dan narkoba, Sabtu (3/1/2026).
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mengendalikan Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan serta menyatakan perusahaan AS akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki struktur minyak di negara itu.
Dikhawatirkan investor akan menghindari aset yang berisiko dan beralih ke instrumen investasi yang lebih aman seperti dolar AS dan emas. Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi dari AS, seperti data tenaga kerja, manufaktur dan Michigan consumer confidence.
“IHSG berpotensi terimbas sentimen negatif jika terjadi tekanan jual dari investor asing,” demikian disebutkan dalam laporan itu.
Jika terjadi kenaikan harga minyak mentah dan emas, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga saham sektor energi dan komoditas terkait. Data inflasi, trade balance, cadangan devisa dan consumer confidence akan dirilis pekan ini.
Saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan di sepanjang pekan ini, di antaranya PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA. (nov)


