BRIEF.ID – Inggris tercatat menjadi negara yang menghadapi eksodus jutawan terbesara di dunia sepanjang Tahun 2025, dengan jumlah mencapai belasan ribu, dan mengalahkan Tiongkok.
Laporan Henley & Partners mencatat sebanyak 16.500 individu beraset tinggi (HNWIs) atau jutawan hengkang dari Inggris. Jumlah tersebut merupakan, yang tertinggi dalam satu dekade pemantauan migrasi kekayaan global.
Dengan jumlah jutawan yang hengkang tersebut, Inggris tercatat menjadi negara maju pertama yang melampaui Tiongkok sebagai negara dengan jumlah jutawan yang paling banyak hengkang.
Henley & Partners melaporkan faktor utama yang menyebabkan para jutawan hengkang dari Inggris adalah performa ekonomi yang buruk, dan kebijakan pajak baru yang membebani para jutawan.
Salah satunya, adalah kebijakan penghapusan rezim non-domicile oleh pemerintah Inggris dianggap sebagai pemicu utama. Warga asing yang tinggal lebih dari empat tahun kini wajib membayar pajak penuh atas penghasilan dan capital gain, sementara mereka yang menetap lebih dari sepuluh tahun bisa terkena pajak warisan 40% atas aset global.
Penerapan pajak yang membebani para jutawan ini juga yang menjadi alasan utama dari para jutawan yang hengkang dari Tiongkok, yang kemudian mencari negara dengan yurisdiksi ramah pajak seperti UAE, Monaco, Malta, dan Singapura.
Akibat dari kebijakan baru yang diterapkan Inggris, sejumlah nama pengusaha atau taipan, seperti Anne Beaufour, yang merupakan pewaris perusahaan farmasi Sanofi, dan promotor olahraga tinju profesional terkenal, Eddie Hearn.
Sementara Lakshmi Mittal, CEO Arcelormittal, produsen baja terbesar dunia, juga dikabarkan seddang mempertimbangkan langkah serupa, termasuk salah satu pendiri Revolut, Nik Storonsky.
Pada 2024, London dikabarkan telah kehilangan 11.300 jutawan, yang menandai pergeseran besar Inggris dalam peta kekayaan global. (jea)


