BRIEF.ID – Indeks di Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Senin (2/3/2026). Indeks rebound setelah melemah di awal sesi. Penguatan pada saham energi dan teknologi membantu mengatasi sentimen akibat serangan udara AS terhadap Iran.
Indeks S&P500 dan Nasdaq Composite ditutup menguat tipis setelah sempat koreksi di atas 1%, sedangkan indeks Dow Jones ditutup melemah terbatas. Serangan AS dan Israel terhadap Iran, menewaskan ratusan orang di negara itu.
Iran membalas dengan menyerang Israel dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, termasuk Bahrain, Qatar, dan Persatuan Emirat Arab. Pasar khawatir akan terjadinya perang lebih luas di Timur Tengah, terutama karena Iran bersumpah akan melakukan pembalasan lebih lanjut atas serangan baru-baru ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, operasi serangan udara memiliki empat tujuan, yaitu penghancuran kemampuan rudal Iran, pemusnahan angkatan lautnya, memastikan Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir, dan mencegah pemerintah Iran mempersenjatai, mendanai, dan mengarahkan aktivitas teroris. Trump memperkirakan waktu yang diperlukan sekitar 4-5 pekan untuk menyelesaikan operasi itu.
Serangan AS terhadap Iran menyebabkan harga minyak menguat tajam di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan, yang mendorong kenaikan biaya bagi bisnis dan konsumen. Jika hal ini berlangsung lama, investor akan mulai khawatir dengan potensi inflasi dan kebijakan moneter bank sentral.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 8 bps ke level 4,044%, karena kekhawatiran pada inflasi. Harga emas di pasar spot menguat 0,4% ke level US$ 5.296 per troy ons, setelah sempat menguat lebih dari 2%, pada Senin (2/3/2026).
Harga minyak mentah WTI menguat lebih dari 8% di atas level US$ 72 per barel, setelah Iran mengatakan telah menutup Selat Hormuz. (nov)


