Indeks Bursa Wall Street Bergerak Mixed

BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street New York, Amerika Serikat (AS) ditutup mixed pada perdagangan, Kamis (8/1/2026).  Indeks S&P 500 nyaris tidak bergerak dan naik tipis kurang dari 0,1%, setelah mengalami penurunan pertama dalam empat hari terakhir. Indeks ini tetap berada di dekat level tertinggi sepanjang masa yang ditetapkan, pada awal pekan ini. Dow Jones Industrial Average naik 270 poin  atau 0,6%, dan Nasdaq composite turun 0,4%.

Sebagian besar saham naik karena imbal hasil obligasi sedikit meningkat di pasar obligasi setelah laporan yang beragam tentang ekonomi AS.

Di sisi lain, investor melakukan rotasi kepemilikan dari saham sektor teknologi ke saham konsumer dan energi. Jumlah warga AS yang mengajukan klaim  tunjangan pengangguran meningkat, pada  pekan lalu, menunjukkan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) relatif rendah, pada akhir tahun 2025 disaat permintaan tenaga kerja tetap lesu.

Produktivitas pekerja AS tumbuh dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir yaitu sebesar 4,9% YoY pada Kuartal III-2025 dari 4,1% YoY di Kuartal II – 2025. Investor akan menantikan data nonfarm payrolls yang akan dirilis, pada Jumat (9/1/2/26).

Sektor perumahan dan pertahanan tetap menjadi fokus setelah serangkaian pengumuman kebijakan dari Presiden AS Donald Trump, termasuk rencana untuk mencegah investor institusional membeli rumah keluarga tunggal guna membantu mengatasi krisis perumahan nasional.

Presiden Trump juga melarang kontraktor pertahanan untuk menerbitkan dividen atau pembelian kembali saham dan menuntut agar AS meningkatkan pengeluaran pertahanan lebih dari 50% menjadi US$ 1,5 triliun pada tahun 2027.

Belum jelas apakah Presiden Trump dapat memberlakukan kebijakan ini tanpa persetujuan dari Kongres. Investor juga menunggu pendapat Mahkamah Agung (MA) tentang legalitas tarif, yang diperkirakan akan dirilis,  pada hari ini.

Imbal hasil obligasi US 10-year  naik 4 bps di level 4,183%. Harga emas stabil di level US$ 4.452 per troy ons, pada penutupan Kamis (8/1/2026). Harga minyak mentah menguat  karena investor mencermati perkembangan di Venezuela serta mengkhawatirkan pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

OJK Proyeksi Kinerja Perbankan Tetap Solid

BRIEF.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, kinerja perbankan...

NATO Sebut Washington Tidak Perlu Miliki Greenland

BRIEF.ID – Negara-negara Eropa meyakini penguatan kehadiran NATO di...

Cadangan Devisa Indonesia US$ 156,5 Miliar, Akhir Desember 2025  

BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadangan devisa...

KPK Tetapkan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Kuota Haji

BRIEF.ID - KPK akhirnya telah menetapkan tersangka dalam perkara...