BRIEF.ID – Hari ini, Selasa 17 Februari 2026, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek atau yang dikenal dengan istilah Festival Musim Semi. Perayaan Imlek dikenal juga sebagai momentum perayaan persaudaraan, toleransi, dan penghormatan pada identitas bangsa.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, bersama berbagai instansi pemerintah, telah menetapkan “Harmoni Imlek Nusantara” sebagai tema perayaan Tahun Baru Imlek 2026.
Tema itu dipilih untuk menggambarkan semangat persatuan, inklusivitas, dan keberagaman budaya Indonesia pada perayaan Imlek. Perayaan itu tidak saja dipahami sebagai tradisi komunitas Tionghoa, tetapi menjadi ruang kebersamaan lintas budaya dan identitas dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Imlek adalah perayaan harapan, keluarga, dan syukur sekaligus cermin nyata Bhinneka Tunggal Ika.
Ketika lampion merah menyala di halaman rumah, ketika doa-doa dipanjatkan di Klenteng, ketika barongsai menari di jalanan kota, yang dirayakan bukan hanya tradisi Tionghoa, tetapi juga ruang hidup bersama dalam perbedaan.
Di kota-kota seperti Manado, Medan, Semarang, Singkawang, hingga Jakarta, Imlek dirayakan dengan semarak. Klenteng dipenuhi umat, pusat kota dihias ornament berwarna merah dan emas, dan masyarakat lintas agama saling mengucapkan selamat.
Perayaan ini menunjukkan bahwa budaya Tionghoa bukan unsur asing, melainkan bagian dari mozaik Indonesia.
Imlek pernah dilarang dirayakan secara terbuka pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Namun pada era Reformasi, melalui kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pada 2002, kebebasan itu dipulihkan.
Kumpul Keluarga
Tahun Baru Imlek adalah momentum kebersamaan, di mana keluarga berkumpul, relasi dipulihkan, dan harapan baru diteguhkan.
Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, suasana Imlek selalu identik dengan rumah yang terbuka, meja makan yang penuh, dan hati yang disiapkan untuk saling mengampuni.
Sebagai bagian dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, banyak masyarakat lintas agama dan suku ikut menyaksikan bahkan terlibat dalam festival budaya ini.
Tahun ini, perayaan Imlek jatuh pada 17 Februari 2026 dan berlangsung selama 15 hari, diakhiri Festival Lampion. Anggota keluarga yang belum kawin dan anak-anak biasanya menerima angpao atau uang, yang dimasukkan ke dalam amplop merah, sebagai tanda berkat dan harapan baik.
Selain itu, rumah didekorasi ornamen berwarna merah, yang melambangkan keberuntungan dan perlindungan dari roh jahat.
Pertunjukan Budaya
Perayaan Imlek berlangsung meriah di berbagai kota, yang ditandai pertunjukan budaya, kuliner, dan ritual tradisi Tionghoa yang kental. Setelah ditetapkan sebagai hari libur nasional pada era Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, perayaan Imlek semakin terbuka dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Kota Singkawang yang dijuluki sebagai Kota Seribu Klenteng menjadi
salah satu pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh terbesar di Indonesia.
Di daerah itu, atraksi tatung (medium roh) menjadi daya tarik utama untuk menarik ribuan wisatawan setiap tahun. Selain itu, digelar pawai budaya dan barongsai untuk meramaikan jalan utama kota.
Di Ibu Kota Jakarta, kemeriahan terasa di kawasan Pecinan seperti Glodok dan di mal-mal. Pertunjukan barongsai dan liong, serta dekorasi lampion merah menghiasi mal dan tempat umum.
Perayaan doa bersama di vihara dan kelenteng, menjadi salah satu ikon perayaan di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat yang selalu dipadati warga menjelang Imlek.
Kawasan Pecinan Semarang, Jawa Tengah juga kerap menghadirkan festival lampion dan pasar malam Imlek. Kelenteng bersejarah, seperti Klenteng Sam Poo Kong menjadi pusat perayaan serta atraksi perpaduan seni tradisional Tionghoa dan Jawa, yang ditampilkan di atas panggung budaya.
Sebagai kota dengan populasi Tionghoa yang cukup besar, Medan merayakan Imlek secara meriah, yang ditandai doa bersama di Vihara Gunung Timur, parade barongsai, dan pesta kembang api.
Barongsai dan Liong tampil di pusat perbelanjaan serta jalan utama. Hidangan khas seperti kue keranjang, mie panjang umur, dan jeruk mandarin juga menandai silaturahmi antar keluarga besar di hari raya Imlek.
Di Medan, suasana Imlek terasa kental karena banyak keluarga keturunan Tionghoa yang masih menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun. Imlek di Medan bukan hanya perayaan agama atau etnis, tetapi menjadi simbol kebersamaan dan toleransi antarumat.
Manado, Sulawesi Utara dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Perayaan Tahun Baru Imlek di Manado yang mencerminkan semangat tolerasi dan kerukunan umat beragama, dirayakan bukan hanya oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga diapresiasi masyarakat luas.
Klenteng Ban Hin Kiong dan Kawasan Pecinan yang berlokasi di sekitar pusat kota lama menjadi lokasi arak-arakan barongsai dan pertunjukan budaya. Yang menarik, warga non-Tionghoa di Manado sering ikut menyaksikan bahkan membantu kelancaran perayaan. Suasana kekeluargaan sangat terasa. Selamat Hari Raya, Imlek…(Berbagai Sumber/nov)


