BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (19/2/2026 melemah 36 poin atau turun 0,43% ke level 8.274.
Volume perdagangan saat itu mencapai 528,0 juta lot saham dengan nilai transaksi Rp 25,87 triliun. Saham top gainers LQ45 adalah MBMA, AADI, MDKA, BUMI, ANTM, INKP, dan ADMR. Saham top losers LQ45, BRMI, JPFA, SMGR, DSSA, BRPT, TOWR, dan BBTN.
Sektor saham basic industry tetap jadi yang terkuat dengan mencatatkan kenaikan 2,85%. Saham-saham sektor ini yang menguat di antaranya TKIM +2,78%, INKP +4,30%
Sedangkan sektor teknologi paling lesu, yang mencatatkan turun 1,16%. Saham sektor tersebut yang lesu di antaranya DCII -5,68%, MTEL -1,82%.
Sementara itu, pergerakan harga saham di bursa Asia meningkat pada Kamis (19/2/2026) ditopang oleh aktivitas saham-saham raksasa tekno di Wall Street.
Di sisi lain, tensi politik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih terus berlanjut mendorong harga minyak tidak stabil. Emas didukung aliran dana ke aset aman.
Greenback perkasa setelah The Fed memperlihatkan bahwa para anggota bank sentral AS tersebut enggan tergesa-gesa memangkas suku bunga.
Volume perdagangan di Asia kurang signifikan karena pasar saham Hong Kong, Tiongkok, dan Taiwan masih tutup karena libur tahun baru Imlek. Indeks MSCI Asia Pasifik tidak termasuk Jepang meningkat 0,5%.
Nikkei 225 Jepang dan Kospi di Korsel menguat signifikan setelah muncul pemberitaan Nvidia pada hari Selasa mencapai kesepakatan multi year untuk menjual jutaan chip AI mereka saat dan di masa mendatang kepada Meta Platforms.
“Kita membutuhkan beberapa kabar baik. Saya pikir ada perasaan lesu secara umum di sektor teknologi,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG, merujuk pada aksi jual besar-besaran awal bulan ini.
Dolar AS mempertahankan kenaikannya pada hari Kamis menyusul data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan dan karena risalah pertemuan kebijakan Fed Januari mengungkapkan beberapa pembuat kebijakan terbuka untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
“Dari perspektif kami, risalah (Fed) mendukung pandangan kami bahwa pemotongan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” kata Charlie Ripley, ahli strategi investasi senior di Allianz Investment Management seperti dikutip Reuters.


