BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (11/2/2026) ditutup menguat 1,96% ke 8.290, ditopang sektor energi yang melonjak 5,95%, sementara sektor keuangan masih tertinggal dengan koreksi 0,49%.
Volume perdagangan mencapai 613,7 juta lot saham dan menghasilkan nilai transaksi Rp29,20 triliun. Saham top gainers LQ45, di antaranya BRPT, MAPI, BUMI, INCO, SCMA, MBMA, dan NCKL. Sedangkan saham top losers LQ45 adalah INDF, UNVR, BMRI, ASII, PTBA, AMRT, dan AKRA.
Saham energi leading setelah naik 5,95%. Saham-saham sektor ini yang menghijau di antaranya BIPI +12,50%, HRUM +8,10%, PGEO +4,39%, ADRO +2,30%, dan ITMG +0,68%.
Sektor keuangan paling tertinggal, turun 0,49%. Saham sektor keuangan yang lesu di antaranya BRIS -2,04%, BMRI -1,47%. BTPS -1,21%, BBNI -0,67%, dan BBCA -0,33%.
Mengutip laporan D’Origin, Kamis (12/2/2026), pasar Asia mayoritas menguat meski ada tekanan, data inflasi Tiongkok di bawah ekspektasi dan penjualan ritel Amerika Serikat (AS) stagnan, namun imbal hasil obligasi AS turun.
Faktor geopolitik AS-Iran dan permintaan India mendorong harga minyak naik, sehingga turut mengangkat saham energi dan memperkuat rupiah.
Bursa Asia
Obligasi melonjak dan rebound di pasar saham melambat pada hari Rabu (11/2/2026) setelah angka penjualan ritel AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun acuan turun hampir enam basis poin semalam dan menyentuh level terendah satu bulan di 4,14%. Pelemahan ini setelah data menunjukkan penurunan 0,1% dalam penjualan ritel inti AS pada bulan Desember dan revisi ke bawah pada angka November dan Oktober.
Pasar Asia sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi pada hari Rabu (11/2/2026), melanjutkan reli mereka meskipun ada kekhawatiran tentang AI dan data ekonomi yang lemah yang membuat investor AS khawatir.
Laporan penjualan ritel AS bulan Desember 2026 menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen stagnan. Data ini meleset dari kenaikan bulanan sebesar 0,4% yang diperkirakan para ekonom yang disurvei Dow Jones.
Di Asia, para investor sedang mengevaluasi data terbaru yang dirilis dari China. Indeks harga konsumen negara itu naik 0,2% pada Januari dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Rabu.
Angka itu lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 0,4% dalam jajak pendapat Reuters, yang merupakan pertanda berlanjutnya tekanan deflasi tanpa adanya stimulus yang lebih kuat. (nov)


