BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 8.280,83 atau turun 1,37% pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/2/2026).
Sektor energi mencatatkan koreksi terbesar, sedangkan sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Seiring pelemahan IHSG, Rupiah juga ditutup melemah pada level Rp 16.829 per Dolar AS di pasar spot.
Pelemahan nilai tukar Rupiah sejalan dengan koreksi mayoritas mata uang Asia akibat penguatan Dolar AS. Ketidakpastian mengenai kebijakan tarif AS dan prospek suku bunga AS yang masih relatif ketat membuat Dolar AS berbalik menguat. Akibatnya, harga emas mengalami koreksi dari level tertinggi selama tiga pekan terakhir dan juga akibat profit taking.
Secara teknikal, momentum penguatan histogram MACD IHSG mulai melemah dan terjadi pembentukan Death Cross Stochastic RSI di area overbought. IHSG kembali ditutup di bawah level MA5 di sekitar 8306. Sehingga diperkirakan koreksi IHSG berpotensi berlanjut dan menguji level support di 8.200-8.250.
Sementara itu, dari Tiongkok dilaporkan bahwa bank sentral kembali mempertahankan suku bunga pinjaman tetap selama sembilan bulan berturut-turut di Februari 2026, yaitu Loan Prime Rate 1Y sebesar 3% dan Loan Prime Rate 5Y di level 3,5%, pada Selasa (24/2/2026).
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan akan berpidato, pada Rabu (25/2/2026) di hadapan Kongres AS mengenai laporan tahunan resmi, yang antara lain berisi tentang kondisi negara dan rencana kebijakan pemerintahannya ke depan.
Sedangkan dari Eropa dilaporkan, investor akan mencermati GfK Consumer Confidence Jerman bulan Maret 2026, yang diperkirakan di level -23,8 dari -24,1. Sedangkan inflasi Euro Area bulan Januari 2026 diperkirakan melambat menjadi 1,7% YoY dari 2% YoY. (nov)


