BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/4/2026) diperkirakan masih konsolidasi meskipun ada kemungkinan terjadi rebound menyusul perpanjangan batas waktu yang diberikan Amerika Serikat (AS) kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz.
Riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Rabu (8/4/2026) menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 7.100, pivot 7.000, support 6.900. Saham-saham yang diunggulkan adalah ESSA, AKRA, BRPT, CPIN, dan JPFA.
IHSG ditutup melemah di level 6,971.03 (-0.26%) pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Rupiah berlanjut melemah 0.42% ditutup di level Rp17,105/US$ di pasar spot, seiring dengan kenaikan indeks Dolar AS serta kecemasan akan prospek ekonomi domestik.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI mendekati area overbought, namun pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 6.900-7.100.
Diperpanjangnya batas waktu dari AS bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, diperkirakan berpotensi mendorong rebound dalam jangka pendek. Namun kondisi ketidakpastian yang masih tinggi, IHSG diperkirakan masih akan cenderung bergerak sideways.
Di dalam negeri diberitakan bahwa defisit APBN 2026 yang telah mencapai 0,93% dari produk domestik bruto (PDB) pada Kuartal I-2026 juga menjadi faktor negatif.
Defisit APBN pada Kuartal I-2026 lebih lebar dibandingkan pada Kuartal I-2025 yang mencapai 0,43% dari PDB. Kenaikan defisit meningkatkan risiko outflow investor asing, terutama dari Surat Berharga Negara (SBN).
Hal ini berpotensi meningkatkan imbal hasil (yield) obligasi yang juga dapat menekan saham-saham di sektor keuangan. Kenaikan yield juga dapat menaikkan biaya pinjaman bagi korporasi, yang berpotensi menekan laju pertumbuhan penyaluran kredit Sektor Perbankan dan berpotensi meningkatkan cost of fund yang harus ditanggung Sektor Perbankan itu sendiri.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian, investor dapat memanfaatkan musim pembagian dividen oleh emiten yang tengah berlangsung. Beberapa emiten yang secara historis membagikan dividen relatif tinggi, di antaranya grup ASII, grup ADRO, ITMG dan, PTBA.
Selain itu, investor masih akan menerapkan trading jangka pendek. Di sisi lain, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis proses evaluasi sistem perdagangan dengan skema Full Call Auction (FCA) dapat diselesaikan pada Kuartal II-2026. (nov)


