BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (11/2/2026) diperkirakan akan melanjutkan penguatan.
Riset Phintraco Sekuritas yang dirilis pada Rabu (11/2/2026) menyebutkan bahwa rebound IHSG dan Rupiah diperkirakan berlanjut pada perdagangan Rabu (11/2/2026). IHSG akan bergerak pada resistance 8.215, pivot 8.100, dan support 8.000. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya CDIA, INET, BKSL, CUAN, dan APEX.
IHSG ditutup menguat di level 8.131,74 atau naik 1,24% pada penutupan perdagangan Selasa (10/2/2026). Semua sektor membukukan kenaikan dengan penguatan terbesar pada saham sektor cyclical. Setelah sempat dibuka melemah, IHSG kembali berbalik menguat.
Meskipun FTSE Russell mengumumkan menunda index review Indonesia pada Maret 2026 seiring masih berlangsungnya reformasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), namun hal itu sudah diantisipasi sebelumnya oleh investor.
“Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia berangsur-angsur pulih. Selain didukung oleh tren penguatan indeks bursa global dan harga komoditas,” demikian hasil riset Phintraco Sekuritas.
Nilai tukar Rupiah juga berlanjut menguat di level Rp 16.790 per Dolar AS di pasar spot, yang didukung tren pelemahan Dolar AS. Tekanan terhadap Dolar AS meningkat setelah adanya laporan bahwa regulator Tiongkok menghimbau lembaga keuangan untuk menahan laju kepemilikan surat utang pemerintah AS.
Secara teknikal, IHSG berhasil bertahan di atas level MA5 didukung oleh berlanjutnya penyempitan histogram negatif MACD serta Stochastic RSI yang berlanjut reversal, sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 8.200-8.215 di perdagangan Rabu (11/2/2026).
Data penjualan ritel domestik tumbuh 3,5% YoY di Desember 2025, melambat dari 6,3% YoY di November 2025 serta menandakan pertumbuhan bulanan selama delapan bulan berturut-turut yang ditopang oleh stimulus dari pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat.
Dengan adanya kenaikan indeks keyakinan konsumen pada Januari 2026 serta perayaan Tahun Baru Imlek yang diikuti oleh bulan Ramadan serta Lebaran pada bulan Februari hingga Maret 2026, diperkirakan tren penjualan ritel pada Januari-Maret 2026 berpotensi akan cenderung meningkat.
Dari Tiongkok dilaporkan, investor akan mencermati data inflasi Januari 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 0,5% YoY dari 0,8% YoY di Desember 2025. Sedangkan dari AS diberitakan, pada Rabu (11/2/2026) akan dirilis data nonfarm payrolls bulan Januari 2026, yang diperkirakan terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 40 ribu orang dari 50 orang di Desember 2025.
Tingkat pengangguran bulan Januari 2026 diperkirakan naik menjadi 4.5% dari 4.4%. (nov)


