BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/2/2026).
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, secara teknikal histogram MACD IHSG berlanjut bergerak menguat di teritori positif dan didukung oleh kenaikan volume beli. Namun Stochastic RSI mulai melambat dan berada di area overbought.
“IHSG ditutup di atas level MA20 sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 8.450-8.500, jika dapat ditutup di atas level 8.400,” demikian hasil riset.
Sementara itu, saham-saham yang diunggulkan, di antaranya BBRI, BRPT, UNVR, ESSA, dan TINS. IHSG akan bergerak pada resistance 8.500, pivot 8.350, dan support 8.300]
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 8.396,08 atau menguat 1,50% pada perdagangan, Senin (23/2/2026). Seperti yang diperkirakan investor merespon positif dibatalkannya pemberlakukan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump oleh Mahkamah Agung AS, pada Jumat (20/2/2026), meskipun Trump menyatakan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 15%.
Investor berharap perjanjian dagang antara AS-Indonesia yang sudah ditandatangani pada Kamis (19/2/2026) dapat batal, karena dalam perjanjian tersebut tarif yang ditetapkan lebih tinggi, yaitu 19%.
Selain itu, faktor positif juga berasal dari adanya berita bahwa MSCI menyetujui proposal PT Bursa Efek Jakarta (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rupiah juga ditutup menguat di level Rp 16.802 per Dolar AS di pasar spot. Sementara itu, data Money Supply M2 di Indonesia meningkat 10% YoY pada Januari 2026, berakselerasi dari 9,6% YoY di Desember 2025.
Realisasi belanja negara mencapai Rp 227.3 triliun per 31 Januari 2026 atau tumbuh sebesar 25.7% YoY. Kenaikan ini menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun, khususnya untuk mendukung program prioritas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Secara rinci, belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 131,9 triliun dan transfer ke daerah (TKD) senilai Rp 95,3 triliun. Melihat lajunya, belanja pemerintah pusat meningkat hingga 53,3% YoY, sementara transfer ke daerah hanya tumbuh tipis 0,6% YoY. (nov)


