IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi

BRIEF.ID – Disaat sentimen global Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di zona merah. Keterpurukan ini, diperkirakan akan berlanjut pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/1/2026). IHSG akan menguji level  support 8.850 – 8.950 dan bergerak pada resistance  9.050 dan pivot  8.950.

IHSG ditutup menguat melemah pada level 8,992.18 (-0.2%) pada perdagangan Kamis (22/1/2026), setelah sempat bergerak fluktuatif. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya  ISAT, KLBF, TLKM, AALI, dan ASRI.

“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di 8.850 – 8.950,” demikian dikutip dari riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Jumat (23/1/2026).

Saham sektor noncyclical membukukan kenaikan terbesar, sebaliknya sektor energi mencatatkan koreksi terbesar. Mayoritas indeks bursa Asia ditutup menguat (22/1/2026), seiring  meredanya ketegangan AS – Eropa setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif 10% terhadap negara-negara Eropa, pada 1 Februari 2026.

Trump juga menyatakan tidak akan menggunakan kekerasan untuk menguasai Greenland.

Indeks di bursa Eropa juga dibuka menguat setelah  Trump menyatakan mencapai kesepakatan kerangka kerja mengenai Greenland. Perdana Menteri (PM) Denmark Mette Frederiksen menyatakan, siap melakukan pembicaraan dengan Trump terkait pertahanan rudal Golden Dome.

Langkah ini menjadi faktor positif dan sempat mendorong rebound IHSG, namun secara teknikal IHSG masih ditutup di bawah MA5 dan MACD berpotensi membentuk Death Cross.

Rupiah di pasar spot ditutup menguat di level Rp 16.885 per dolar AS,   pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Meskipun indeks dolar AS menguat, mayoritas mata uang Asia cenderung bergerak naik. Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI Rate tetap di posisi 4,75%, serta pernyataan BI yang tidak akan ragu melakukan intervensi terhadap rupiah, menjadi  faktor yang mendorong penguatan rupiah. Selain itu, Bank Indonesia juga  akan merilis data M2 Money Supply bulan Desember 2025, Jumat (23/1/2026).

Investor akan mencermati data inflasi Jepang bulan Desember 2025 yang diperkirakan melambat di level 2,7% YoY dari 2,9% YoY pada November 2025. Diberitakan juga bahwa investor juga menantikan pertemuan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga tetap di level 0,75%,  Jumat (23/1/2026).

Dari Inggris diberitakan bahwa akan dirilis retail sales serta S&P global manufacturing dan services PMI flash. Dari AS dikabarkan  akan dirilis indeks manufaktur dan jasa, serta Michigan Consumer Sentiment Final Januari 2026. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diyakini Terus Meningkat

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto optimistis  pertumbuhan ekonomi Indonesia...

WEF Davos 2026, Prabowo Ungkap Fondasi Utama Indonesia Menjaga Stabilitas Fiskal

BRIEF.ID –  Presiden Prabowo Subianto  mengungkapkan  kebijakan ekonomi Indonesia,...

Presiden Prabowo Tandatangani Board of Peace Charter di Davos

BRIEF.ID – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menjadi...

Kemenkes Buka Jalur Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Rumah Sakit

BRIEF.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka jalur pendidikan dokter...