BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik arah ke zona merah imbas aksi ambil untung (profit taking) investor.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup turun 0,55% atau 34,88 poin ke level 6.263. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 0,27% atau 16,92 poin ke posisi 6.315,53.
Sepanjang 3 jam sesi I perdagangan berlangsung, IHSG bergerak variatif dengan menyengtuh level terendah di 6.261, dan level tertinggi di 6.328.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 540 saham turun harga, 148 saham naik harga, dan 275 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan. Adapun nilai kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp10.955 triliun.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan hari ini mencapai 20,966 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 946.983 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp4,512 triliun.
Investor melancarkan aksi profit taking terhadap saham-saham yang harganya telah melambung sepanjang pekan ini, terutama di sektor properti, dan konsumsi.
Sementara di lini saham-saham unggulan, tekanan jual terhadap saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII) turut membebani IHSG.
Harga saham TLKM terpantau turun 0,83% atau Rp20 menjadi Rp2.390 per lembar, sedangkan ASII terkoreksi 1,26% atau Rp60 menjadi Rp4.710 per lembar.
Aksi jual yang dilancarkan investor terhadap saham-saham di BEI, juga dipicu arus modal keluar (capital outflow), seiring langkah investor mengamankan modal ke aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Lonjakan indeks dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury, menjadi daya tarik bagi investor global di tengah tren lonjakan inflasi dan suku bunga tinggi.
Indeks dolar AS masih berada di atas level 100, seiring aksi borong yang dilakukan investor untuk mengamankan modal ke aset berdenominiasi dolar AS. Pada sesi pagi perdagangan hari ini, indeks dolar AS berada di level 101,25.
Sedangkan yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik 7,8 basis poin (bps) ke 5,19%, dan semakin memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar AS.
Ketidakpastian hasil perundingan damai antara AS dan Iran, serangan kelompok militan houthi Yaman ke kawasan kilang minyak Arab Saudi, serta memanasnya konflik geopolitik Rusia-Ukraina, meningkatkan kekhawatiran terhadap krisis energi global.
Imbasnya, harga minyak dunia kembali melonjak di atas level US$100 per barel. Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menajdi acuan global masih tinggi di level US$105 per barel.
Lonjakan harga minyak dunia berdampak menekan harga logam mulia, saham, dan valuta asing (valas), sebaliknya membuat dolar AS dan US Tresury melonjak.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati hasil pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, terutama terkait isu perang dagang antarkedua negara adikuasa tersebut.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan melemah di kisaran level support 6.200 hingga level resistance 6.300. (Jea)


