BRIEF.ID – Harga emas dunia terus menguat dan stabil di atas level psikologis US$5.000 per troy ounce imbas ancaman tarif impor terbaru dari Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara.
Pada perdagangan sesi asia, Selasa (27/1/2025) pagi, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,42% menjadi US$5.042,2 per troy ounce, dibandingkan US$5.011,2 per troy ounce pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026).
Lonjakan harga emas dunia dipicu ancaman tarif impor terbaru, yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump, kepada sejumlah negara, antara lain Korea Selatan (Korsel), dan Kanada.
Presiden Trump mengancam bakal menaikkan tarif bea masuk terhadap produk asal Korsel menjadi 25%. Pasalnya, negeri ginseng ini dinilai tidak menepati apa yang sudah disepakati dalam perjanjian dagang.
Menurut Trump, Korsel tidak menerapkan aturan yang mencerminkan kesepakatan dengan AS terkait perdagangan, padahal AS sudah menurunkan tarif impor barang asal Korsel.
“Dalam kesepakatan tersebut, kami telah menurunkan tarif. Tentu saja kami berekspektasi mitra dagang kami melakukan hal yang sama,” tulis Trump dalam cuitan di media sosial, seperti dikutip Selasa (27/1/2026).
Sementara terhadap Kanada, Trump mengancam bakal memberlakukan tarif impor sebesar 100%, jika negara tetangga AS itu membuat kesepakatan dagang dengan Tiongkok.
Pendorong kenaikan harga emas pada sesi perdagangan asia pagi ini, juga dipengaruhi aksi jual massal (sell of) obligasi Pemerintah Jepang, seiring defisit fiskal negeri matahari terbit itu.
Aksi sell off obligasi Pemerintah Jepang dipicu keraguan investor terhadap kekuatan anggaran Negara Jepang, yang agresif dan ekspansi, ketika Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menjanjikan pemotongan tarif pajak.
Investor memandang anggaran negara Jepang yang ekspansif dan agresif ini belum jelas pembiayaannya jika tarif pajak dipotong, sehingga satu-satunya cara adalah dengan berutang di pasar obligasi.
Langkah tersebut, direspon pelaku pasar dengan melakukan aksi jual massal obligasi pemerintah Jepang, sebagai sinyal bahwa pasar tidak sepakat dengan ide belanja fiskal yang berlebihan.
Secara teknikal, harga emas dunia masih berada di zona bullish, terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 81. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Investor diperingatkan untuk berhati-hati jika RSI di atas 70, karena berarti harga emas dunia sudah mencapai titik jenuh beli (overbought).
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 86. Di atas 80, jadi memang sepertinya sudah overbought.
Untuk perdagangan hari ini, harga emas dunia diprediksi masaih menguat, dan bergerak di kisaran level US$ 5.020 per troy ounce hingga 5.076 per troy ounce. (jea)


