BRIEF.ID – Wakil Presiden AS James David Vance, Sabtu (11/4/2026) tiba di Islamabad, Pakistan untuk memimpin delegasi AS saat bernegosiasi dengan Iran, yang bertujuan untuk menstabilkan gencatan senjata yang rapuh dan menjajaki jalan menuju perdamaian di Timur Tengah.
Dikutip dari Times of India, Vance mendarat di pangkalan udara Nur Khan dekat Ibu Kota Pakistan, di disambut oleh kepala angkatan darat Pakistan Asim Munir.
Delegasi AS juga termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Delegasi Iran, yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, telah tiba di Islamabad sebelum pembicaraan dimulai.
Negosiasi ini berlangsung pada saat yang kritis, dengan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlaku tetapi berada di bawah tekanan yang signifikan.
Qalibaf menegaskan bahwa pembicaraan hanya akan dilanjutkan jika dua syarat utama terpenuhi, yaitu gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir.
Sebelum meninggalkan Washington, Vance menyampaikan nada hati-hati, memperingatkan Teheran agar tidak mencoba memanfaatkan perundingan tersebut.
“Jika mereka mencoba mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati bahwa tim negosiasi kami tidak begitu responsif,” kata Vance.
Sementara itu, keamanan di Islamabad telah diperketat secara signifikan menjelang pertemuan tingkat tinggi. Jalan-jalan ditutup dan warga disarankan untuk tetap berada di dalam rumah, sehingga sebagian kota tampak seperti berada dalam jam malam.
Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif menggambarkan momen ini sebagai fase “penentu” dan menggarisbawahi kesulitan transisi dari gencatan senjata sementara ke perjanjian perdamaian yang langgeng.
Pembicaraan berlangsung di tengah kekerasan yang terus berlanjut di kawasan itu, khususnya di Lebanon, di mana bentrokan antara Israel dan Hizbullah terus berlanjut meskipun kerangka gencatan senjata yang lebih luas telah diberlakukan.
Ketidaksepakatan mengenai cakupan gencatan senjata ini telah muncul sebagai titik permasalahan utama dalam negosiasi.
Selat Hormuz tetap menjadi titik konflik lain, dengan blokade Iran yang mengganggu pasokan energi global dan menambah urgensi pada diskusi.
Harga minyak telah melonjak tajam sejak konflik dimulai, mencerminkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Dengan kedua belah pihak tetap teguh pada tuntutan utama, pembicaraan di Islamabad dipandang sebagai ujian penting apakah upaya diplomatik dapat mencegah eskalasi baru di kawasan itu. (nov)


