Dilema Reformasi Pasar Modal Indonesia

BRIEF.ID – Reformasi pasar modal Indonesia untuk memenuhi tuntutan MSCI Inc  dinilai dapat mencegah penurunan status. Sementara itu, memenuhi standar MSCI menjadi salah satu tujuan penting dalam reformasi pasar modal Indonesia, karena sangat berpengaruh pada arus masuk investasi global ke dalam negeri.

Namun  upaya itu dinilai belum cukup untuk menghindari penurunan bobot dalam indeks global.

Citigroup Inc dan Alphagate Capital menyatakan, langkah-langkah otoritas pasar modal – termasuk menyoroti beberapa perusahaan terbesar dengan kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi – kemungkinan akan menyebabkan sebagian saham dikeluarkan dari indeks oleh penyusun indeks pada Mei nanti karena kurangnya saham yang tersedia untuk publik.

Pada Januari 2026,  MSCI telah memperingatkan status pasar modal Indonesia bisa diturunkan ke frontier market  dari emerging market,  jika tidak memperbaiki struktur kepemilikan saham dan potensi kolusi dalam perdagangan.

“Kami tidak melihat Indonesia akan diturunkan ke frontier market dan akan tetap berada di kategori emerging market,” kata Henry Wibowo, mantan analis JPMorgan & Chase Co, pendiri Alphagate Capital dikutip dari kajian D’Origin, Rabu (8/4/2026).

Namun, Lembaga itu memperkirakan akan terjadi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI EM, seiring  adanya beberapa saham yang dikeluarkan dalam rebalancing Mei, terutama yang masuk daftar konsentrasi tinggi, kata Wibowo.

Sejauh ini MSCI belum memberikan tanggapan atas langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.

Kekhawatiran atas potensi downgrade MSCI telah membuat Indeks Harga Saham Gabungan turun sekitar 20% tahun ini, meskipun regulator telah meningkatkan persyaratan free float dan meminta keterbukaan lebih besar terkait kepemilikan saham.

Tantangan utama berasal dari dominasi konglomerasi keluarga yang mengendalikan banyak entitas publik dan privat, mulai dari sektor tambang hingga petrokimia, dengan kontrol yang biasanya dijaga melalui kerabat dan pihak terafiliasi.

“Kami menilai reformasi ini positif dan baik untuk prospek jangka menengah hingga panjang.  Namun, peninjauan indeks semi-tahunan MSCI pada Mei 2026 masih berpotensi memicu pengeluaran selektif atau penurunan bobot saham yang memiliki konsentrasi tinggi dan free float yang rendah,” kata analis Citigroup  Ferry Wong.

Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis (2/4/2026) mengumumkan sembilan perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan saham di atas 95%, dan menjanjikan akan rutin mengungkapkan data tersebut. Di antara sembilan perusahaan itu terdapat  PT Barito Renewables Energy (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang sahamnya sempat anjlok hingga 14% pada sesi perdagangan Senin (6/4/2026).

Perusahaan infrastruktur telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama(SUPR), yang dikendalikan oleh pewaris Grup Djarum Martin Hartono dan Victor Hartono,  mengumumkan rencana untuk delisting karena kesulitan memenuhi ambang batas free float baru.

Sejauh ini, sebanyak 20 perusahaan, yang  diperkirakan menyumbang hampir 43% dari total bobot indeks, termasuk PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bayan Resources (BYAN), menurut data PT Trimegah Sekuritas Indonesia per Juni 2025. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menyumbang sekitar setengah dari MSCI Indonesia Index.

Pekan lalu, otoritas bursa juga menerbitkan aturan yang mewajibkan perusahaan tercatat meningkatkan porsi saham publik hingga 15%, dengan tenggat waktu hingga tiga tahun. (Bloomberg/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Diprediksi Masih Konsolidasi

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

PTPP Cetak Nilai Kontrak Baru Rp 3,87 Triliun Hingga Februari 2026

BRIEF.ID – PT PP (Persero) Tbk (PTPP), perusahaan konstruksi...

Pernyataan Trump Tuai Kecaman

BRIEF.ID -  Ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald...

Paus Leo: Ancaman Terhadap Rakyat Iran Tidak Dapat Diterima

BRIEF.ID – Pemimpin umat katolik Paus Leo XIV menyerukan...