BRIEF.ID – Tiga negara menawarkan diri menjadi mediator negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencegah meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, seiring serangan balasan yang dilakukan Iran ke Israel dan negara-negara Teluk sejak Sabtu (21/3/2026), ditanggapi Presiden AS, Donald Trump, dengan tawawan negosiasi kepada Iran.
Trump juga memberi waktu selama 5 hari untuk proses negosiasi dengan Iran, dan menyatakan siap mengambil langkah tegas, jika negara tersebut tetap memblokir Selat Hormuz.
Pentagon dikabarkan akan mengerahkan sekitar 3.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 elit Angkatan Darat ke Timur Tengah untuk mendukung operasi melawan Iran.
Para pejabat menyatakan keputusan untuk mengerahkan pasukan darat di Iran belum dibuat, karena pemeringtah AS membuka jalur diplomasi dengan negara tersebut untuk mengakhiri perang.
Menanggapi tawaran negosiasi AS kepada Iran, para pejabat dari Turki, Mesir, dan Pakistan berupaya agar pembicaraan antara pejabat tinggi kedua negara dapat diatur dalam 48 jam ke depan.
Pakistan menawarkan untuk menjadi mediator dalam pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang, sebuah tawaran yang diperkuat oleh Presiden Trump lewat cuitan di media sosial.
Meski demikian, otoritas Iran justru bertindak sebaliknya, dengan melancarkan serangan ke Israel, dan Kuwait, dengan menyasar fasilitas nuklir dan kilang minyak.
Sementara Pentagon dikabarkan berencana mengerahkan sekitar 3.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 elit Angkatan Darat ke Timur Tengah untuk mendukung operasi melawan Iran.
Hal itu, membuat banyak pihak menilai baik AS maupun Iran masih bertindak jauh dari jalur diplomasi, apalagi membahas kesepakatan untuk mengakhiri perang. (jea)


