BRIEF.ID – Harga saham di bursa global naik pada Selasa (10/2/2026) setelah indeks acuan Jepang mencetak rekor baru pasca kemenangan bersejarah Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi, pada pemilihan umum di negara itu.
Indeks CAC 40 Prancis naik tipis 0,2% pada perdagangan awal menjadi 8.342,16, sementara DAX Jerman turun hampir 0,2% menjadi 24.977,44. FTSE 100 Inggris turun 0,5% menjadi 10.339,55. Kontrak berjangka untuk S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average naik kurang dari 0,1%.
Pada perdagangan di pasar Asia, indeks acuan Nikkei 225 Jepang melonjak 2,3% untuk ditutup pada 57.650,54, rekor penutupan tertinggi. Indeks tersebut melonjak 3,9% ke rekor tertinggi pada hari Senin setelah kemenangan telak partai politik Takaichi pada pemilihan parlemen hari Minggu. Takaichi diperkirakan akan mendorong reformasi yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi dan pasar saham.
“Sikap fiskal Jepang dapat semakin melonggar karena mayoritas super Partai Demokrat Liberal (LDP) akan memungkinkan pemerintah baru untuk menerapkan kebijakan dengan sedikit hambatan,” kata Fitch Ratings dalam sebuah laporan pasca pemilihan, merujuk pada Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi.
“Pilihan kebijakan di bawah pemerintah baru kemungkinan akan fokus pada pengurangan pajak dan pengeluaran investasi yang berorientasi pada pertumbuhan, mencerminkan kekhawatiran pemilih atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan pendapatan yang rendah,” katanya.
Indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 0,6% menjadi 27.183,15, sementara Indeks Komposit Shanghai bertambah 0,1% menjadi 4.128,37.
Indeks S&P/ASX 200 Australia turun kurang dari 0,1% menjadi 8.867,40. Indeks Kospi Korea Selatan naik kurang dari 0,1% menjadi 5.301,69.
Pada Senin (9/22026), S&P 500 naik 0,5% dan Dow naik tipis kurang dari 0,1%. Nasdaq naik 0,9%.
Pemerintah AS akan memberikan pembaruan bulanan terbaru tentang kondisi pasar kerja pada hari Rabu. Hari Jumat akan menghadirkan data inflasi bulanan terbaru di tingkat konsumen.
Kedua laporan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi tentang apa yang akan dilakukan Federal Reserve terhadap suku bunga. Fed telah menunda pemotongan suku bunga, tetapi melemahnya pasar kerja dapat mendorongnya untuk melanjutkan pemotongan lebih cepat. (Associated Press/nov)


