BRIEF.ID – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, Ramadan menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan sinergi Masyarakat Ekonomi Syariah.
“Ramadan menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan komitmen kita untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” kata Rosan pada acara buka puasa bersama di BSI Tower, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Hadir pada kesempatan itu, Wakil Presiden RI ke-13 KH Ma’ruf Amin, Ketua Harian PP MES yang juga Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, pelaku industri keuangan Syariah, akademisi, dan ulama.
Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dan Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyoroti dinamika ekonomi global dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu dinilai akan berdampak pada stabilitas ekonomi global, khususnya terkait ketidakpastian harga energi hingga volatilitas di pasar keuangan.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, kita membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional karena membawa nilai keadilan, keseimbangan, serta keberpihakan kepada sektor riil,” ujar Rosan.
Disebutkan, pengembangan ekonomi syariah membutuhkan kolaborasi luas seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, akademisi, ulama, hingga organisasi masyarakat.
“Ketika seluruh pemangku kepentingan berjalan bersama dalam satu semangat yang sama, kita akan mampu membangun ekosistem ekonomi syariah yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Pada kesempatan itu Rosan mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan mengumumkan struktur kepengurusan baru MES.
“Kepengurusan ini diharapkan membuat organisasi bergerak lebih dinamis, kolaboratif, dan berdampak bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian PP MES Ferry Juliantono, mengungkapkan bahwa masa depan ekonomi syariah tidak hanya bertumpu pada sektor keuangan syariah dan industri halal. Ekonomi syariah perlu masuk lebih dalam ke sektor riil sebagai kekuatan produksi, perdagangan, dan distribusi di tengah masyarakat.
Ferry juga menyoroti potensi besar koperasi pondok pesantren sebagai motor penggerak ekonomi umat. Pesantren dinilai memiliki ekosistem yang kuat, mulai dari sumber daya manusia, komunitas yang solid, hingga kebutuhan ekonomi yang nyata.
“Dari pesantren kita bisa membangun model pengembangan sektor riil ekonomi syariah, mulai dari produksi hingga jejaring usaha yang berkelanjutan,” katanya. (nov)


