BRIEF.ID – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengajak masyarakat kritis memilih pemimpin Indonesia. Pemimpin yang harus dipilih adalah yang bernilai Pancasila, bukan pemimpin yang hanya mengekor pada kepemimpinan orang lain.
“Kita penting untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilu. Kita wajib ikut serta, kritis memilih, dan memilah calon yang akan kita pilih. Dengan data dan fakta akurat, kita bisa memahami dan bertindak bijaksana untuk menggunakan hak sebagai warga negara,” kata Staf Khusus Ketua BPIP Romo Benny Susetyo, pada Seminar Kebangsaan GKI Samanhudi, Jakarta, Minggu (13/8/2023).
Romo Benny mengatakan, tahun 2023 adalah tahun yang dipenuhi oleh pertarungan dalam rangka menyambut Pemilu 2024.
“Isu SARA dimunculkan, memori-memori kebanggaan masa lalu juga ditampilkan. Padahal, harus kita bisa lihat, apakah calon yang diusung berani mengatasi radikalisme, terorisme, dan permasalahan-permasalahan kesejahteraan hidup. Dia bukan pemimpin yang mengekor kesuksesan orang lain, tidak punya sikap,” kata dia.
Disebutkan, bangsa Indonesia wajib mempertahankan Pancasila. Pemimpin Indonesia juga harus bisa mengayomi, bukannya ada di balik atau pernah menjadi tokoh radikalisme, terorisme, dan permasalahan kesejahteraan hidup.
Pakar komunikasi politik itu juga menyoroti generasi muda, yang menurut KPU RI jumlahnya mencapai 52% dari seluruh pemilih.
“Anak muda tidak mau dianggap remeh. Mereka sadar politik, karena mendapatkan informasi. Mereka kritis. Tugas kita, tugas gereja adalah bagaimana pendidikan untuk pemilih muda ini untuk bisa menjaga NKRI dan Pancasila,” jelas Romo Benny.
Ia mengatakan, Pemilu 2024 bukan merupakan ajang untuk memilih pemimpin yang terbaik, melainkan mencegah yang jahat untuk berkuasa.
“Cari pemimpin yang dosanya paling kecil. Pemimpin tanpa dosa itu utopis. Carilah yang paling benar, bisa, dan terbukti berupaya, menyelenggarakan kehidupan berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Tidak pernah terafiliasi dengan politik identitas, radikalisme, dan terorisme,” kata dia.