BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (20/2/2026) diprediksi akan bergerak sideways setelah mengalami pelemahan 0,43%, pada penutupan hari Kamis (19/2/2026).
Riset Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 8.350, pivot 8.300, dan support 8.200. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya AMMN, TKIM, PSAB, ANTM, dan ADMR.
“Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram positif MACD dan Stochastic RSI mengarah ke overbought. Namun volume jual mengalami kenaikan sehingga diperkirakan IHSG akan cenderung bergerak sideways pada kisaran 8.200-8.350,” demikian riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Jumat (20/2/2026).
Disebutkan, IHSG ditutup melemah di level 8.274,08 atau turun 0,43% pada Kamis (19/2/2026), setelah sempat menguat hingga level 8.376. Rupiah ditutup melemah di level Rp16. 894 per Dolar AS di pasar spot. Sektor teknologi mencatatkan koreksi terbesar, sebaliknya sektor basic materials membukukan penguatan terbesar.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI rate tetap di level 4,75% untuk kelima kali berturut-turut, Kamis (19/2/2026). Keputusan itu sejalan dengan upaya untuk menstabilkan rupiah yang cenderung melemah, serta untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target BI dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan kredit mencapai 9,96% YoY di Januari 2026 dari 9,69% YoY pada Desember 2025, serta merupakan pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025. Investor menantikan data Current Account 4Q25 yang diperkirakan membukukan surplus US$ 2 miliar dari surplus US$ 4 miliar di pada Kuartal III-2025.
Indonesia dan AS menandatangani kesepakatan dagang dengan poin-poin di antaranya AS menyetujui penurunan tarif impor untuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19% dan Indonesia menghapus bea impor untuk sebagian besar produk asal AS. Produk minyak sawit Indonesia mendapatkan fasilitas tarif impor 0%. Namun, produk tekstil tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 19%.
Bersamaan dengan perjanjian itu, pemerintah telah ditandatangani pula 11 Nota Kesepahaman (MoU) sektor swasta kedua negara senilai US$ 38,4 miliar. Kerja sama ini mencakup sektor mineral kritis, energi, agribisnis, tekstil, dan teknologi semikonduktor. (nov)


