BRIEF.ID – Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilancarkan ke beberapa lokasi di Iran, termasuk wilayah Ibu Kota Teheran dan target‐target militer lainnya. Ledakan terdengar di pusat kota Iran dan sirene peringatan berbunyi di berbagai kawasan. Iran menyatakan serangan ini sebagai agresi besar dan mengancam.
Serangan ini sebagai operasi besar yang dijalankan AS dan Israel secara terkoordinasi.
“Iran telah membalas, menargetkan Israel dan aset-aset AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Suriah, Yordania, dan Irak,” demikian dikutip dari Aljazeera, Sabtu (28/2/2026).
Seperti diberitakan Associated Press, Presiden AS Donald Trump mendesak warga Iran untuk berlindung selama serangan, tetapi kemudian mengatakan, “Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda,” kata Trump.
Ia mengatakan, pernyataan ini adalah seruan luar biasa yang menunjukkan bahwa sekutu AS-Israel berupaya mengakhiri teokrasi negara itu setelah puluhan tahun ketegangan.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga menggemakan tujuan besar itu. “Operasi gabungan kami akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk menentukan nasib mereka sendiri,” kata Netanyahu.
Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, Trump mengklaim Iran terus mengembangkan program nuklirnya dan berencana mengembangkan rudal untuk mencapai AS.
Serangan pertama tampaknya menargetkan kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, di pusat kota Teheran. Belum jelas apakah Khamenei berada di sana pada saat itu. Asap terlihat mengepul dari ibu kota Iran.
Iran merespons seperti yang telah diancamnya selama berbulan-bulan — pertama-tama meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan Israel. Kemudian disusul dengan serangan yang menargetkan instalasi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Persatuan Emirat Arab dan Irak menutup wilayah udaranya. (nov)


