BRIEF.ID – Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara pada Senin (6/4/2026) yang menewaskan lebih dari 25 orang di Iran. Teheran membalas serangan itu dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara-negara tetangga di Teluk, sementara tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin dekat.
Dikutip dari Associated Press, Senin (6/4/2026), ledakan terdengar hingga larut malam di Teheran dan suara jet yang terbang rendah terdengar selama berjam-jam saat ibu kota dibombardir. Asap hitam tebal mengepul di dekat Lapangan Azadi setelah satu serangan udara menghantam halaman Universitas Teknologi Sharif.
Menurut otoritas Israel, dua orang ditemukan tewas di reruntuhan bangunan tempat tinggal di Haifa. Pencarian masih berlangsung untuk dua orang lainnya ketika serangan rudal Iran baru menghantam kota di Israel utara itu, pada Senin pagi.
Kuwait dan Persatuan Emirat Arab (PEA) sama-sama mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat rudal dan drone Iran yang datang, sementara Teheran terus menekan negara-negara tetangganya di Teluk. Serangan rutin Iran terhadap infrastruktur energi regional dan cengkeramannya di Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dunia pada masa damai, telah menyebabkan harga energi global melonjak.
Di bawah tekanan dalam negeri karena konsumen semakin khawatir, Trump memberi Teheran tenggat waktu yang berakhir Senin (4/6/2026) malam, waktu Washington, dengan mengatakan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai untuk membuka kembali selat tersebut, AS akan menyerang pembangkit listrik Iran dan target infrastruktur lainnya serta mengembalikan negara itu “ke zaman batu.”
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya terbungkus dalam satu hari, di Iran. Jika Iran tidak membuka selat tersebut, kalian akan hidup di Neraka,” ancam Trump yang diunggah melalui media sosial. (nov)


