Alokasi Anggaran Tambahan untuk Ramadan dan Idul Fitri 2025 Meningkat , Potensi Perputaran Uang Capai Rp303,19 Triliun

BRIEF.ID – Alokasi anggaran tambahan untuk keperluan Ramadan dan Idul Fitri 2025 meningkat signifikan dengan potensi perputaran uang mencapai Rp303,19 triliun.

Demikian hasil survei Bank Syariah Indonesia (BSI) Institute, yang dipublikasikan dalam BSI Institute Quarterly Volume 1 2025, dikutip Sabtu (29/3/2024).

Senior Resident Researcher BSI Institute, Priyesta Rizkiningsih, mengatakan Ramadan dan Idul Fitri adalah momen yang sangat ditunggu umat Islam dan pelaku usaha, karena memiliki dampak ekonomi yang besar. 

Dari sisi pengeluaran, Ramadan dan Idul Fitri menjadi saat di mana pengeluaran masyarakat meningkat, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk kegiatan sosial melalui zakat, infak, sedekah dan wakaf.

Dari sisi penghasilan, momentum Ramadan dan Idul Fitri juga menjadi kesempatan mendapatkan penghasilan tambahan, terutama dari Tunjangan Hari Raya (THR).

Priyesta mengungkapkan, kondisi ini tercermin dari hasil survei BSI Institute yang dilakukan terhadap 3.029 responden individual di 10 wilayah diIndonesia yaitu, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Survei terkait pola perilaku individu dalam mempersiapkan Bulan Ramadan, menunjukkan 64,75% responden menambah alokasi pengeluaran untuk bulan Ramadan sebesar Rp1.000.000-Rp3.000.000.

Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan hasil penelitian tahun sebelumnya di mana rata-rata nominal penambahan alokasi pengeluaran untuk bulan Ramadan sebesar Rp500.000-Rp1.000.000 (Goodstat, 2024).

“Berdasarkan hasil survei BSI Institute, diperkirakan sebanyak 112,10 juta penduduk muslim mengalokasikan tambahan pengeluaran sebesar Rp1 juga sampai Rp3 juta, dan proyeksi perputaran uang dari tambahan pengeluaran tersebut sebesar Rp303,19 triliun,” kata Priyesta.

Dia menjelaskan, tambahan penghasilan tersebut paling banyak berasal dari bonus dan THR (89,79%), dan terdapat responden yang mendapatkan penghasilan tambahan dari mengikuti kegiatan arisan bersama (5,95%).

Mayoritas responden menggunakan alokasi tambahan pengeluaran di bulan Ramadan untuk keperluan makanan (35,7%), kemudian zakat, infak, sedekah (ZIS) sebesar 25,98%, belanja pakaian dan produk fesyen lainnya (25,65%), dan hadiah (11,45%).

Hal ini mencerminkan bahwa skala prioritas responden masih menunjukkan alokasi tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan.

Adapun tingginya pengeluaran untuk pakaian dapat terjadi karena terdapat tradisi masyarakat Indonesia untuk berkumpulbersama keluarga dan menampilkan penampilan terbaiksaat Idulfitri, sehingga mendorong pembelian pakaian baru.

Besarnya pengeluaran ZIS pada bulan Ramadan sejalan dengan faktor agama, di mana pahala kegiatan tersebut  diyakini berlipat ganda sesuai dengan hadis, serta memvalidasi laporanWorld Giving Index (2024) yang selalu menempatkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang paling dermawan dan masyarakat yangpaling religius (Pew Research Center, 2024).

Selain itu, untuk mempersiapkan bulan Ramadan, mayoritas responden berbelanja pada satu hingga tiga hari sebelum Ramadan (31,52%), sedangkan 30,13% berbelanja satu minggu sebelumnya.

“Menariknya, sebanyak 56,26% responden masih memilih berbelanja secara offline, lalu 41,39% memadukan metode online dan offline, dan hanya 2,35% berbelanja secara online untuk persiapan Ramadan,” ujar Priyesta.

Hasil survei BSI Institute juga menunjukkan motivasi atau alasan yang mendasari pola perilaku berbelanja untuk keperluan Ramadan dan Idul Fitri.

Adapun motivasi eksternal yang mempengaruhi perilaku berbelanja Ramadan dan Idul Fitri, antara lain ritual atau tradisi keagamaan, serta faktor keluarga dan kerabat. Sedangkan motivasi internal adalah religiusitas, dan kondisi finansial.

Hasil survei BSI menunjukkan mayoritas responden (35,05%) melakukan konsumsi selama bulan Ramadan karena ingin lebih banyak berbagi dengan sesama, dan pada urutan kedua adalah karena selama Ramadan banyak terdapat promo seperti diskon dan sebagainya.

“Mayoritas generasi Z memiliki motivasi untuk menambah alokasi pengeluaran untuk belanja konsumsi di bulan Ramadan karena banyaknya promosi,” ungkap Priyesta.

Sahur dan Buka Puasa

Rutinitas makan sahur, dan buka puasa, juga mempengaruhi perilaku berbelanja umat Muslim di Bulan Ramadan.

Untuk mempersiapkan makan sahur, mayoritas responden memilih memasak di rumah (68,17%), disusul 23,32% responden memilih untuk membeli makan di luar dan di bawa ke rumah, dan sisanya memesan katering atau makan di luar. Adapun rata-rata pengeluaran responden untuk makan sahur yaitu kurang dari Rp50.000 per hari (58,97%).

Sedangkan untuk makanan berbuka puasa, tidak hanya menjadi momen yang ditunggu individu, tetapi juga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pedagang musiman yang menjual takjil.

“BSI Institute memproyeksikan, dari aktivitas ngabuburit berburu takjil untk makanan berbuka puasa, terdapat perputaran uang sebesar Rp4,04 triliun,” tutur Priyesta.

Kegiatan berburu takjil masih diminati oleh para responden, dimana 87,28% responden menyatakan membeli takjil selama Ramadan, dengan mayoritas pengeluaran berada dikisaran Rp20.001–Rp40.000 per orang per hari (45,53%).

Selain berburu takjil, kegiatan buka puasa bersama juga masih sangat diminati pada bulan Ramadan, karena menjadi momentum mempererat hubungan silaturahmi baik itu dengan keluarga besar maupun dengan kerabat.

Hal ini terlihat dari hasil survei BSI Institute, yang menunjukkan 73,57% responden melakukan buka puasa bersama saat bulan Ramadan, di mana 72,07% responden melakukannya sebanyak 2–5 kali sepanjang bulan Ramadan.

Acara buka puasa bersama umumnya dihadiri oleh lebih dari 10 orang (46,83%), dan paling banyak dilaksanakan pada minggu ketiga Ramadan(35,2%).

Restoran atau kafe masih menjadi tempat favorit untuk menyelenggarakan acara buka puasa bersama (39,47%) dan di urutan kedua sebanyak 31,3% yangmemilih untuk berbuka puasa bersama di rumah ataupun rumah kerabat.

“Adapun pengeluaran buka puasa bersamaberada pada kisaran Rp50.000–Rp250.000 per orang. BSI Institute memproyeksikan perputaran uang dariaktivitas buka puasa bersama selama bulan Ramadan, yaitu Rp15,5 triliun,” kata Priyesta. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Idul Fitri 1446 Hijriah dan Halal Bihalal di KBRI Bucharest

BRIEF.ID - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bucharest, Rumania...

Idul Fitri 1446 Hijriah, Rosan: Jaga Semangat Kebaikan

BRIEF.ID - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman...

Khotbah Idul Fitri 1446 H, Puasa Mabrur Membawa Indonesia Maju dan Sejahtera

BRIEF.ID - Guru Besar UIN Jakarta Prof Ahmad Tholabi...

Tradisi Merayakan Lebaran di Berbagai Negara

BRIEF.ID – Hari Raya Idul Fitri dirayakan  umat Muslim...