BRIEF.ID – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perekonomian nasional menunjukkan ketahanan yang solid.
Soliditas itu tercermin pada pertumbuhan ekonomi sebesar 5% selama tujuh tahun berturut-turut. Hal ini berarti perekonomian Indonesia tumbuh 35% dalam tujuh tahun di tengah ketidakpastian global dan berbagai krisis yang dilalui, termasuk perang tarif.
“Pemerintahan sudah berjalan satu tahun, dan alhamdulillah perekonomian masih dalam situasi yang baik-baik saja,” kata Airlangga saat menjadi berbicara pada
Closed-Door Dialogue: C-Suite Forum, bagian dari Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan UOB Indonesia di Jakarta, Sabtu (29/11/2025).
Forum bertema Indonesia’s Economic Craft: Challenges, Opportunities, and Strategies in a Changing World, yang mempertemukan para pemimpin bisnis, ekonom, dan korps diplomatik, membahas tantangan dan strategi ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang terus berkembang.
Airlangga mengungkapkan, berbagai tekanan ekonomi global sepanjang tahun 2025 telah banyak diantisipasi Pemerintah.
Stabilitas makro tetap terjaga, tercermin dari perbaikan kepercayaan konsumen, PMI manufaktur di level ekspansif, serta penguatan pasar keuangan.
“Nilai tukar dan inflasi juga berada dalam rentang terkendali, sementara realisasi investasi lebih dari Rp 1.400 triliun dengan target Rp1.900 triliun pada akhir tahun,” ujarnya.
Menurut Airlangga, berbagai faktor ketidakpastian sudah priced-in pada tahun ini. Bahkan, headwind yang berat berhasil dilewati.
“Karena itu, Outlook 2026 lebih optimistis, dan kita berharap pertumbuhan di atas 5,4%. Tidak ada risiko yang seberat perang Ukraina, Gaza, Covid-19, maupun perang tarif. Semuanya sudah dilampaui Indonesia,” ungkap Airlangga. (nov)


