Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Tekanan Global, Tak Seperti Krisis 1998

BRIEF.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang solid meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian global. Situasi ini dinilai sangat berbeda dibandingkan krisis ekonomi 1998.

Secara kinerja, Indonesia telah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara G20, tepat di bawah India.

Menariknya, capaian ini tetap dibarengi dengan defisit anggaran yang terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibanding sejumlah negara lain seperti India (4 persen), Prancis (4,4 persen), hingga Amerika Serikat (6,3 persen).

Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen. Sementara itu, Indonesia diperkirakan mampu tumbuh lebih tinggi, yakni sekitar 5,3 persen pada tahun ini.

Airlangga bahkan menyampaikan dirinya optimis bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 bisa mencapai 5,5 persen.

“Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen,” tutur Airlangga dalam Media Briefing bersama media internasional di Auditorium Bakom RI, Jakarta, Senin (13/4).

Mengacu pada laporan Bloomberg, risiko Indonesia untuk masuk ke jurang resesi tergolong sangat kecil, yakni hanya sekitar 5 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Brasil dan China (masing-masing 15 persen), serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30 persen.

Daya tahan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, berkontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB. Selain itu, stabilitas juga diperkuat oleh sektor pangan dan energi yang relatif terjaga.

Di sektor pangan, Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2025 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Produksi beras tercatat mencapai 34,7 juta ton, dengan cadangan Bulog sebesar 4,6 juta ton per 8 April 2026, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Untuk sektor energi, pemerintah terus mendorong kebijakan strategis seperti implementasi B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak nasional.

Peran APBN juga dinilai krusial sebagai penyangga ekonomi masyarakat, terutama melalui berbagai program bantuan sosial. Di sisi lain, kinerja penerimaan negara menunjukkan tren positif, dengan realisasi pajak hingga Maret 2026 mencapai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan.

“Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor,” kata Airlangga.

Indikator sosial ekonomi juga menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,25 persen, sementara ketimpangan turun ke level 0,363. Tingkat pengangguran juga menurun menjadi 4,7 persen.

Dari sisi utang, rasio terhadap PDB berada di angka 40,46 persen atau sekitar Rp9.637,9 triliun. Mayoritas pembiayaan berasal dari dalam negeri, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara hanya 12,6 persen, sehingga risiko terhadap gejolak eksternal relatif rendah.

“Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,” ujarnya. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Lebaran Betawi Perkuat Identitas Budaya Jakarta

BRIEF.ID – Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Riano...

Rosan Optimistis Realisasi Investasi Triwulan I – 2026 Mencapai Rp 497 Triliun

BRIEF.ID – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman...

Indonesia – Rusia Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi

BRIEF.ID – Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Federasi Rusia...

Presiden Prabowo Awali Kunjungan di Rusia

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto mengawali kunjungan kenegaraan di...