BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat tipis imbas pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) seiring berlanjutnya tekanan jual obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,04% atau 6 poin menjadi Rp16.799 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.805 per dolar AS.
Sementara di pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,11% menjadi Rp16.792 per dolar AS, lalu perlahan berbalik melemah. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah tertekan dan berada di level Rp16.812 per dolar AS.
Penguatan rupiah pada awal perdagangan dipicu pelemahan dolar AS seiring tekanan jual pada US Treasury imbas imbauan Pemerintah Tiongkok agar sektor swasta negara itu mengurangi kepemilikan obligasi AS.
Saran Pemerintah Tiongkok tersebut dilandasi ketidakpercayaan terhadap pengelolaan anggaran AS, dan hubungan dagang yang memanas antarkedua negara.
Dikabarkan Pemerintah Tiongkok mulai mengurangi kepemilikan US Treasury dalam dua tahun terakhir, dan mengalihkannya ke logam mulia atau emas.
Hal itu selaras dengan laporan World Gold Council, yang mencatat peningkatan pembelian emas dunia oleh bank-bank sentral berbagai negara, termasuk bank sentral Tiongkok atau people Bank of China (PBoC).
Pada Januari 2026, PBOC tercatat membeli emas dunia sebanyak 40.000 troy ounce. Hal itu, menandai aksi borong emas dunia yang dilakukan PBoC selama 15 bulan berturut-turut.
Meski demikian, rupiah perlahan berbalik melemah terhadap dolar AS pada sesi perdagangan pagi ini, karena investor mencermati data penjualan ritel Indonesia per Desember 2025.
Pelaku pasar memprediksi terjadi penurunan penjualan ritel Indonesia pada Desember 2025 di kisaran 5,5% dibandingkan 6,3% pada November 2025.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis di kisaran Rp16.750 per dolar AS hingga Rp16.850 per dolar AS. (jea)


