BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) imbas laporan Fitch Ratings yang memprediksi pertumbuhan ekonomi melambat di semester II 2026 hingga 2 tahun ke depan.
Berdasarkan data transaksi antarbank di jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,21% atau 38 poin menjadi Rp18.060 per dolar AS dari level Rp18.022 per dolar AS pada penutupan Rabu (21/10/2026).
Pelemahan rupiah terjadi sejak awal perdagangan hari ini, seiring lonjakan harga minyak dunia, yang menyentuh level US$110 per barel, yang mnerupakan level tertinggi sejak Mei 2026.
Tingginya harga minyak dunia memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi yang dipicu kenaikan biaya impor dan biaya energi. Inflasi tinggi akan memicu bank sentral memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan, yang dapat berimbas pada biaya pinjaman mahal dan daya beli melemah.
Selain itu, pelemahan rupiah dipreparah laporan terbaru lembaga pemeringkat, Fitch Ratings, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tak mencapai 5% pada 2027 dan berlanjut pada 2028.
Prediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dipicu ketidakpastian global yang masih tinggi, dan menipisnya dukungan fiskal pemerintah, serta penerimaan ekspor.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2 tahun ke depan, akan memengaruhi target pemerintah untuk mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029.
Fitch menilai, pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tantangan berat pemerintah, apabila tidak disertai reformasi yang lebih signifikan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas, terutama jika pemerintah tetap ingin menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.
Fitch juga mencatat tekanan terhadap rupiah dan penyangga eksternal Indonesia meningkat sepanjang 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta tata kelola pasar modal.
Meski demikian, respons kebijakan yang cepat untuk mendukung rupiah dan pengangkatan gubernur bank sentral yang baru secara cepat dinilai telah meredakan tekanan tersebut. (Jea)


