BRIEF.ID – Harga minyak turun di pada Rabu (21/1/2026) sore karena persediaan minyak Amerika Serikat (AS) diperkirakan naik, mengimbangi penghentian sementara produksi minyak di 2 ladang besar di Kazakhstan juga faktor tekanan geopolitik dari ancaman tarif AS seiring upaya AS menguasai Greenland.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 97 sen menjadi US$ 63,95 per barel dan kontrak minyak mentah West Texas Intermediate AS kehilangan 78 sen ke harga US$ 59,58 per barel.
Produksi minyak di dua ladang minyak Kazakhstan bisa dihentikan selama tujuh hingga sepuluh hari lagi, menurut sumber dari kalangan industri kepada Reuters.
Penghentian produksi minyak di Tengiz, salah satu ladang minyak terbesar di dunia, dan Korolev bersifat sementara, dan tekanan dari kenaikan persediaan minyak mentah AS yang diperkirakan akan terjadi, bersamaan dengan ketegangan geopolitik, akan terus berlanjut, kata analis pasar IG, Tony Sycamore, pada Rabu (21/1/2026).
Sementara itu, pasar saham Eropa dibuka bervariasi pada Rabu (21/1/2026), di mana semua mata tertuju pada pidato Presiden AS Donald Trump di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Indeks FTSE Inggris indeks dan DAX Jerman dibuka datar. Sedangkan Indeks CAC 40 Prancis naik 0,16%. Serta Indeks FTSE MIB Italia 0,23% lebih rendah.
Trump dijadwalkan berpidato di WEF pada pukul 13.30 waktu London. Pidato Trump akan dipantau dengan cermat karena disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan negara-negara sekutu Eropanya terkait wilayah Greenland milik Denmark, yang ingin dikuasai Trump.
Sebelumnya, pada Selasa (20/1/2026), Trump menolak untuk menjelaskan secara rinci sejauh mana ia akan bertindak untuk mencapai tujuannya menjadikan Greenland bagian dari AS, dan mengatakan kepada seorang reporter, “Anda akan segera mengetahuinya.” (nov)


