Pemerintah Raup Rp35 Triliun dari Lelang SUN, Penawaran Meningkat 51%

BRIEF.ID – Pemerintah meraup Rp35 triliun dari lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (13/10/2026), dengan penawaran investor meningkat 51%.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan lelang SUN kemarin menunjukkan peningkatan permintaan investor dibandingkan lelang SUN sebelumnya pada 29 September 2026.

Hal itu, terlihat dari nilai penawaran yang masuk sebesar Rp64,86 triliun pada lelang SUN kemarin, meningkat 51,3% dari Rp42,87 triliun pada lelang SUN 29 September 2026.

“Hasil lelang SUN kemarin juga di atas target indikatif Rp30 triliun, dan menunjukkan pemulihan permintaan investor ketika pasar keuangan domestik sedang tertekan dan imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS atau US Treasury masih tinggi,” bunyi keterangan Kemenkeu, dikutip Rabu (14/10/2026). 

Sebagai catatan, saat lelang SUN berlangsung yield US Treasury sedikit terpangkas menjadi 5,19%. Sebelumnya US Treasury bertahan tinggi di level 5,23%.

Kemenkeu menjelaskan, dari sisi distribusi permintaan, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tenor  1 tahun dan FR0110 menjadi penopang utama dalam lelang SUN kemarin.

Penawaran yang masuk pada SPN12271014 meningkat 141% menjadi Rp14,86 triliun, dengan nominal yang dimenangkan naik 104,5% menjadi Rp9 triliun. 

Sementara FR0110, dengan tenor 5 tahun, mencatat penawaran masuk terbesar, yakni Rp21,15 triliun, naik 63,4%. Nilai yang dimenangkan juga ikut terkerek 14,1% jadi Rp10,9 triliun. 

Kemenkeu mencatat terjadi penurunan imbal hasil (yield) pada sebagian seri SUN, terutama di seri SPN dengan penurunan sebesar 11-25 basis poin (bps).

Sementara FR0110 turun 1,98 bps jadi 7,06%, sedangkan FR0107 turun 0,81 bps jadi 7,27%. FR0111 dan FR0112 relatf stabil di kisaran 725%-7,27%. Sebaliknya yield FR0102 naik 0,92 bps menjadi 7,3% dan FR0105 naik 1,26 bps menjadi 7,3%. 

“Penurunanyield ada sebagian besar seri SUN menjadi sinyal positif bagi biaya pembiayaan aliascost of fund,”  bunyi kutipan Kemenkeu.

Sedangkan, kenaikan yield pada seri SUN dengan tenor yang lebih panjang seperti FR0102 dan FR0105 menunjukkan bahwa kekhawatiran investor terhadap prospek jangka panjang belum sepenuhnya mereda. 

Obligasi tenor panjang memang memiliki sensitivitas harga lebih besar terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan suku bunga. Sehingga, investor tetap meminta kompensasi lebih tinggi saat masuk pada tenor tersebut. 

Ke depan, arah yield surat utang selanjutnya, sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia, serta ekspektasi kenaikan suku bunga global. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indonesia Lepasliarkan 20 Penyu Hijau Usai Gagalkan Penyelundupan di Bali

BRIEF.ID – Otoritas Indonesia melepasliarkan 20 ekor penyu hijau...

Ramalan BaZi 2027: Geopolitik Memanas, Ancaman PHK hingga Harga Minyak Melambung

BRIEF.ID - Ramalan berbasis astrologi Cina atau BaZi memproyeksikan...

Infrastruktur Pengendali Banjir, Embung Kebagusan Ditargetkan Beroperasi 2027

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempercepat pembangunan...

513 Hektare Lahan TN Tanjung Puting Terbakar, Prabowo Siapkan 200 Pompa Air

BRIEF.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman...