BRIEF.ID – Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), menilai reformasi pasar modal Indonesia belum optimal, dan mengusulkan status indeks saham Indonesia turun dari emerging market ke standalone.
Hal itu, merupakan hasil laporan konsultasi MSCI dengan regulator dan pelaku pasar modal Indonesia, yang dirilis ke publik pada Jumat (16/9/2026).
Dalam laporan tersebut, MSCI mengungkapkan, konsultasi terhadap Indonesia dilakukan setelah MSCI memperingatkan bahwa pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
MSCI pun menegaskan bahwa hingga saat ini, pelaku pasar belum melihat kemajuan reformasi, yang konsisten dan memadai di pasar saham Indonesia.
“Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti,” demikian pernyataan resmi MSCI, Jumat (16/10/2026).
Terkait dengan reformasi pasar modal Indonesia yang belum optimal, MSCI membuka konsultasi reklasifikasi indeks saham Indonesia dari status emerging market menjadi standalone.
Mengutip keterangan di situs MSCI, standalone dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah pasar saham baru, yang sebelumnya belum masuk cakupan MSCI.
Kedua adalah reklasifikasi ke standalone. Kondisi ini terjadi karena ada kasus penurunan yang luar biasa dalam hal aksesibilitas, ukuran, atau likuiditas pasar saham.
Sebagai informasi, ada beberapa negara yang masuk kategoristandalone. Di Benua Amerika ada Argentina, Jamaika, Panama, serta Trinidad & Tobago.
Sementara di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika ada negara-negara seperti Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe.
“MSCI akan memberi pengumuman final (hasil konsultasi) pada akhir Juni 2027 dan bisa saja memberikan pembaruan interim selama proses ini,” bunyi pernyataan MSCI.
Pengumuman MSCI tersebut langsung membuat pelaku pasar bereaksi negatif, yang menimbulkan gejolak dan menekan pasar keuangan Indonesia ambruk ke zona merah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung mengalami treding halt (pemberhentian perdagangan saham), karena dibuka melemah lebih dari 8%.
Sedangkan nilai tukar rupiah Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) dibuka melemah 0,46% atau 83 poin menjadi Rp18.021 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.938 per dolar AS. (Jea)


