BRIEF.ID – Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, mengatakan green energi (energi hijaua) menjadi kebutuhan sekaligus tantangan bagi Indonesia.
Menurut dia, Indonesia tak bisa sepenuhnya beralih ke green energi, dan meninggalkan energi fosil, seperti minyak mentah dan Batu Bara, karena produksi energi di dalam negeri belum mampu memenuhi konsumsi energi masyarakat, baik Bahan Bakar Minyak (BBM), gas, maupun listrik.
Dia menjelaskan, produksi minyak mentah Indonesia sangat terbatas bahkan lifting minyak cenderung turun setiap tahun. Dari 63 cekungan yang ditemukan dan 36 cekungan di antaranya telah dieksplorasi, paling banyak sumber energi yang ditemukan adalah gas dibandingkan minyak mentah.
Hal ini menyebabkan lifting minyak mentah Indonesia di klaim turun sekitar 6% per tahun. Hingga akhir Desember 2024, rata-rata lifting minyak hanya mencapai 587.000 barel per hari, padahal konsumsi BBM Indonesia sepanjang 2024 rata-rata mencapai 1.460.000 barel per hari.
“Sehingga kita harus mengimpor minyak mentah dan BBM sekitar 950.000 barel per hari, untuk memenuhi konsumsi BBM nasional,” ujar Sugeng, dalam acara Kabar Bursa Economic Insight 2025 bertajuk “Greenomic-Indonesia Challenges in Banking, Energy Transition, and Net Zero Emissions”, di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Dia mengungkapkan, ada persoalan lain terkait konsumsi BBM, yaitu sekitar 78% masyarakat Indonesia adalah pengguna BBM jenis RON 90, yakni pertalite.
Sedangkan untuk menuju green energi,
minimal BBM yang digunakan adalah RON 98 atau sama dengan Pertamax Turbo, kare akandungan sulfur dan karbonnya relatif rendah.
“Tingginya konsumsi Pertalite berkaitan dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah. Itupun harga Pertalite disubsidi pemerintah,” kata Sugeng.
Sementara untuk konsumsi gas, sebagian besar juga merupakan hasil impor. Pasalnya gas yang digunakan masyarakat sehari-hari adalah LPG yang diimpor.
Sementara gas LNG yang banyak dimiliki Indonesia produksinya mahal karena sebagian besar berada di offshore. Keterbatasan infrastruktur dan logistik membuat biaya produksi LNG atau gas alam menjadi mahal.
“Soal gas alam kita memang kaya, tapi yang dikonsumsi sehari-hari dalam bentuk LPG itu adalah hasil impor. Sementara gas alam kita itu, kebanyakan di offshore, jadi biaya produksinya mahal, apalagi kita tidak punya infrastruktur yang mendukung produksi dan distribusinya” ungkap Sugeng.
Konsumsi Listrik
Sedangkan untuk konsumsi listrik, lanjutnya, konsumsi listrik per kapita Indonesia tercatat berada di 3 terbawah di ASEAN, di mana Indonesia hanya sedikit lebih inggi dari Timor-Timur dan Myanmar.
“Bayangkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia hanya 1.400 kilowatt saja per jam, sedangkan Singapura sudah 5.600 kilowat per jam. Konsumsi listrik sebesar itu hanya di Jakarta, tapi daerah lain belum sebesar itu. Beda dengan di Singapura dan Malaysia,” tutur Sugeng.
Belum lagi untuk produksi listrik, sebagian besar pembangkit listrik yang dimiliki Indonesia menggunakan BBM, batubara, dan uap, sehingga tidak memenuhi kriteria green energi.
Padahal, salah satu faktor yang mencerminkan suatu negara sudah maju adalah kebutuhan listrik yang besar, karena untuk industri.
“Makanya green energi itu jadi kebutuhan sekaligus tantangan bagi Indonesia. Kalau kita benar-benar mau transisi ke green energi, pemerintah harus benar-benar menjamin bahwa kita mampu memenuhi konsumsi energi kita secara mandiri, bukan bergantung dari impor,” ujar Sugeng.
Diamenambahkan, meskipuhn Indonesia menerapkan energi baru terbarukan sebagai jawaban untuk adopsi green energi, namun energi fosil (BBM, gas, batubara) tidak sepenuhnya dapat ditinggalkan.
“Kalau pun kita masuk ke EBT, bukan berarti energi fosil bisa kita tinggalkan, karena kebutuhan masarakat yang besar. Jadi tinggal kita kurangi kandungan karbonnya agar memenuhi kriteria green energi,” kata Sugeng.