IHSG Anjlok di Atas 5%, Pelaku Pasar Wait and See Jelang Pertemuan BEI dan MSCI

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok hingga di atas 5%, seiring sikap wait and see (menunggu) pelaku pasar menjelang pertemuan pihak Bursa Efek Indonesia 9BEI) dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pada awal sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026), IHSG dibuka melemah 0,84% atau 70,36 poin ke level 8.259. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 menguat 0,91 poin atau 0,11 persen ke posisi 834,44.

Hingga pukul 11:30 waktu JATS, IHSG terpantau masih bergerak di zona merah, dengan terkoreksi 5,10% atau 425.108 poin di level 7.910.  Sepanjang 2 jam 30 menit perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 8.313, dan level terendah di 7.858.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 723 saham turun harga, 59 saham naik harga, dan 32 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Adapun volume transaksi saham mencapai 34,171 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.974.185 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp18,125 triliun.

Pelemahan IHSG masih dipicu sentimen di dalam negeri seiring mundurnya sejumlah pejabat di Pasar Modal, baik dari BEI maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada pekan lalu.

Pengunduran diri pejabat pasar modal, seiring intervensi pemerintah terhadap bursa, justru menimbulkan kekhawatiran investor khususnya asing, terkait independensi Self Regulatory Organization (SRO) yang dikelola mandiri atau non-pemerintah.

Masuknya modal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk menahan anjloknya IHSG, dinilai menjadi bentuk intervensi pemerintah, terutama terhadap saham-saham potensial dari sektor swasta.

Hal itu memicu arus modal keluar (capital outflow) dari BEI meningkat, karena investor asing mengambil sikap wait and see terhadap pertemuan resmi pihak BEI dengan MSCI.

Pelaku pasar terutama menunggu kejelasan klarifikasi BEI terkait kepemilikan saham, dan kebijakan free float yang dinilai MSCI kurang transparan.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati rilis indeks PMI manufacturing, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi , serta cadangan devisa dan indeks harga properti, pada pekan ini.

Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal reserve (The Fed) yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, sehingga dolar AS dan US Treasury kembali diburu investor.

Hal itu, memicu arus modal asing keluar dari emerging market termasuk Indonesia, karena investor mengalihkan modalnya ke dolar AS dan US Treasury.

Untuk perdagangan ahri ini, IHSG diprediksi masih melemah, bahkan hartus diwaspadai kemungkinan terhadinta penghentian sementara perdagangan atau trading halt ketiga, karena penurunan IHSG yang telah melampaui angka 5%.

Saat ini, batas trading halt diberlakukan saat IHSG turun sebesar 8%. Mengingat saham-saham potensial termasuk saham 3 bank besar milik pemerintah mengalami koreksi, maka investor patut mencermati kemungkinan terjadinya trading halt, terutama di sesi II perdagangan.

Adapun pergerakan IHSG hari ini diprediksi di kisaran level support 7.800 hingga level resistance 8.500. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Inflasi Indonesia 3,55% di Januari 2026 Dipicu Tarif Listrik dan Harga Emas

BRIEF.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi Indonesia...

Surplus Neraca Dagang RI Capai US$41,05 Miliar pada 2025, Amerika Serikat Penyumbang Terbesar

BRIEF.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan surplus neraca...

Nilai Ekspor Indonesia Capai US$282,91 Miliar Sepanjang 2025 Ditopang Industri Pengolahan dan Pertanian

BRIEF.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan nilai ekspor...

Rupiah Kembali Tertekan Hampir Dekati Level Rp16.800 per Dolar AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali tertekan dan...