BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk ke level 5.185 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/10/2026).
Sepanjang tahun ini atau year to date (ytd), IHSG telah terkoreksi sebesar 68,71% dari level 8.748 pada 2 Januari 2026. Ironisnya, pada tahun ini, IHSG pernah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa dengan menyentuh level 9.174 pada 20 Januari 2026.
Pada akhir perdagangan hari ini, IHSG terpantau ambruk 11,57% atau 678,67 poin ke level 5.185. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus tertekan di zona merah dengan menyentuh level tertinggi di 5.404, dan level terendah di 5.185.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 775 saham turun harga, hanya 10 saham naik harga, dan 110 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 68,613 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.133.195 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp32,014 triliun.
Dari total nilai transaksi Rp32,014 triliun, investor asing tercatat melakukan transaksi jual sebesar Rp17,4 triliun atau 27,22% dari total transaksi, sedangkan investor domestik sebesar Rp14,6 triliun atau 22,78% dari total transaksi.
Di saat bersamaan, investor asing melakukan pembelian sebesar Rp14,1 triliun atau 21,99% dari total nilai transaksi, sedangkan pembelian investor domestik mencapai Rp17,9 triliun atau 28,01 % dari total nilai transaksi.
Saham-saham unggulan dan berkapitalisasi besar (big caps) ambruk, sehingga menjadi pemberat IHSG. Bahkan beberapa saham yang selama ini menjadi penopang IHSG, terutama 4 bank besar terkoreksi di atas 11%.
Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 14,84% atau Rp460 menjadi Rp2.640 per lembar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) anjlok 14,82% atau Rp590 menjadi Rp3.390 per lembar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpuruk 14,81% atau Rp900 menjadi Rp5.175 per lembar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk melemah 12,90% atau Rp440 menjadi Rp2.970 per lembar.
Selain itu, saham Big Caps lainnya, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga terkoreksi 14,80% atau Rp330 menjadi Rp1.900, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 15% atau Rp240 menjadi Rp1.360 per lembar, dan PT Astra International Tbk (ASII) terhempas 12,58% atau Rp200 menjadi Rp4.190 per lembar.
Pelemahan IHSG dipicu panic selling yang dilakukan investor menyikapi laporan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang mengusulkan klasifikasi indeks Indonesia turun dari emerging market menjadi standalone market.
Penilaian ini, lebih parah dari Januari 2026, ketika MSCI mengeluarkan penilaian, yang membekukan indeks saham Indonesia setelah investor menyoroti ketidaktransparanan struktur kepemilikan dan dugaan coordinated trading.
Kala itu, MSCI mengancam akan menurunkan klasifikasi indeks saham Indonesia ke Frontier Market, dan akan mempertahankan klasifikasi Emerging Market jika otoritas pasar modal melakukan reformasi, yang mencakup keterbukaan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), dan peta jalan peningkatan minimum free float menjadi 15%.
Namun dalam pengumuman terbaru pada 15 Oktober 2026, atau Jumat (16/10/2026) dinihari WIB, MSCI menyebut reformasi pasara modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) belum optimal.
MSCI melaporkan sejumlah pelaku pasar menilai implementasinya belum konsisten dan belum disertai penegakan hukum yang signifikan.
“Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti,” bunyi pernyataan resmi MSCI, Jumat (16/10/2026).
Terkait dengan laporan terbaru MSCI tersebut, pihak BEI, dan OJK telah menyampaikan penjelasan. OJK menduga penilaian MSCI yang menitikberatkan soal penegakkan hukum terkait dengan kasus 3 emiten.
Ketiga emiten tersebut adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Pacifik Renewables Energu Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). BREN dan CUAN adalah emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Tahun 2023.
Tak hanya OJK dan BEI, DPR, Danantara, hingga Polri ikut memberi pernyataan yang mendukung penegakkan hukum pasar modal untuk meyakinkan investor. (Jea)


