BRIEF.ID – Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tak mencapai 5% pada Tahun 2027, bahkan berlanjut hingga Tahun 2028, karena dukungan fiskal menipis.
Dalam laporan terbaru yang dirilis Fitch Ratings, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diprediksi hanya mencapai 5,2%, lebih rendah dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (SPBN) 2026 yang sebesar 5,4%.
Fitch menyebut meskipun kondisi ekonomi RI resilien di tengah gejolak ekonomi akibat lonjakan harga energi, namun pertumbuhan ekonomi mengalami perlambahan pada semester II 2026 hingga dua tahun ke depan.
Pada Tahun 2027, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya sebesar 4,9%, dan berlanjut ke Tahun 2028. Prediksi tersebut meleset dari perkiraan Pemerintah RI, yang mematok pertumbuhan ekonomi pada 2027 sebesar 6%.
“Proyeksi ini sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 yang melambat dibandingkan paruh pertama tahun ini, yang tumbuh hingga 5,45%,” kata Director Sovereign Ratings Fitch, George Xi, dalam laporan pada Kamis (22/10/2026).
Pelambatan pertumbuhan ekonomi Indoensia diperkirakan berlanjut tahun depan, seiring dukungan fiskal yang menipis setelah pemerintah merealisasikan belanja lebih besar (frontloading) pada semester I 2026.
“Kami memperkirakan dampak dukungan fiskal pemerintah menipis setelah frontloading belanja pada semester I 2026. Net ekspor juga akan berkurang dari pertumbuhan sebagian karena tingginya impor,” ungkap George Xi.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2 tahun ke depan, akan memengaruhi target pemerintah untuk mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029.
Fitch menilai, pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tantangan berat pemerintah, apabila tidak disertai reformasi yang lebih signifikan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas, terutama jika pemerintah tetap ingin menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.
“Proyeksi dasar kami menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia akan menghadapi tantangan untuk mencapai target pertumbuhan tersebut sembari menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan, apabila tidak disertai reformasi yang lebih signifikan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tutur George Xi. (Jea)


