Daya Tahan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Hadapi Pelemahan Rupiah

BRIEF.ID – Pertanyaan tentang level “ambruk” ekonomi Indonesia adalah hal yang sangat krusial, terutama disaat nilai rupiah berada di fase kritis mendekati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan ini dengan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.

​Mengutip riset D’Origin yang dirilis Kamis (22/1/2026), disebutkan bahwa tidak ada  angka pasti yang bisa disebut sebagai “tombol kehancuran” perekonomian nasional. Harus dipertimbangkan pula, kalangan ekonom dan otoritas moneter cenderung menggunakan beberapa level psikologis dan teknis sebagai indikator berbahaya perekonomian negeri ini.

Pertama, apabila nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.000  per dolar AS, maka  dikategorikan sebagai  alarm merah. Posisi ini adalah tahapan yang dihadapi Indonesia saat ini. Secara historis, angka ini berada di atas rekor terlemah saat krisis 1998 yang mencapai ~Rp 16.800 per dolar AS.

Dampaknya jika menembus dan bertahan lama di atas Rp 17.000 per dolar AS, kepercayaan investor, terutama asing  bisa runtuh. Mereka akan menganggap Indonesia masuk ke dalam “teritori krisis baru.”  

Risiko yang ditandai terjadinya panic selling di pasar saham dan obligasi, yang membuat rupiah jatuh lebih dalam tanpa kontrol.

Kedua, level Rp 17.500 – Rp 18.000 dikategorikan sebagai titik tekan sektor riil.  ​Pada level ini, ekonomi mulai mengalami “Imported Inflation” (inflasi yang disebabkan barang impor).

​Kebangkrutan UMKM & Industri. Industri yang sangat tergantung pada impor,  seperti industri tahu tempe yang bergantung pada pasokan  kedelai impor, farmasi, dan elektronik. Pelaku usaha di sektor ini diperkirakan akan  gulung tikar karena tidak sanggup lagi membeli bahan baku.

Di sisi lain, beban Utang Luar Negeri (ULN) perusahaan besar  dalam mata uang dolar  tanpa lindung nilai (hedging) akan mengalami gagal bayar (default), yang berpotensi  memicu krisis perbankan.

Ketiga,  apabila nilai tukar rupiah berada di level Rp 20.000 per dolar AS, maka dikategorikan sebagai potensi “ambruk” sistemis.

Disaat nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 20.000 per dolar AS dalam waktu singkat, tidak diragukan lagi ekonomi Indonesia bisa dikatakan berada dalam kondisi darurat nasional. ​Efek Domino yang mungkin terjadi adalah inflasi bisa melonjak di atas 10% (hiperinflasi ringan), daya beli masyarakat hancur total, dan cadangan devisa Bank Indonesia akan terkuras habis hanya untuk melakukan intervensi.

Pertanyaannya, mengapa ekonomi Indonesia lebih “resilience” pada tahun  2026 dibandingkan 1998?  Harus diakui meskipun angkanya terlihat menyeramkan, ada alasan mengapa ekonomi Indonesia belum “ambruk” meski nilai tukar rupiah nyaris mendekati Rp 17.000 per dolar AS.  

Ada sejumlah faktor yang membuat ekonomi Indonesia mampu bertahan. Pertama, cadangan devisa kuat. Per Januari 2026, cadangan devisa negeri ini mencapai US$ 156,5 miliar, jauh lebih besar dibanding saat krisis 1998.

Selain itu adalah rasio utang.  Mayoritas utang pemerintah sekarang dalam bentuk Rupiah (SBN), bukan dolar, sehingga pemerintah tidak langsung bangkrut saat kurs melemah.

​Fundamental perbankan dapat dikatakan cukup kuat.  Bank-bank besar seperti  BBCA dan BBRI memiliki rasio modal (CAR) yang sangat tebal, sehingga lebih kuat menahan guncangan ekonomi.

Oleh sebab itu, seluruh elemen bangsa wajib meyakini bahwa eonomi Indonesia tidak akan “ambruk” seketika, hanya karena nilai tukar rupiah menyentuh angka tertentu, namun kecepatan pelemahan adalah kuncinya.

Jika rupiah melemah pelan-pelan menuju angka  Rp 17.500 per dolar AS, ekonomi masih bisa beradaptasi. Apabila melonjak dari Rp 16.900 ke Rp 18.000 dalam satu minggu, itulah yang bisa memicu krisis. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Stress Test Daya Tahan Sistem Keuangan

BRIEF.ID - Sebenarnya, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa...

Trump Batal Berlakukan Tarif 10%, Indeks Wall Street Ditutup Menguat

BRIEF.ID –  Indeks di bursa Wall Street New York,...

Pencabutan Izin 28 Perusahaan Sektor Kehutanan Berdampak IHSG Rawan Terkoreksi

BRIEF.ID – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencabut izin 28...

Dipengaruhi Sentimen Pasar Global, IHSG Terseret ke Zona Merah

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terseret ke...