Browsing Category

Startups

Startups Weekly Brief

Investor Asing Menyerbu Sektor Startup, Kominfo Khawatir?

March 2, 2019

Perkembangan perusahaan digital rintisan (startup) di Indonesia semakin pesat, apalagi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mencanangkan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Perusahaan startup di Indonesia pun terus menarik dana investasi dari dalam dan luar negeri, ditambah dana investor asing yang sudah menyerbu sektor startup. Namun, di sisi lain sejumlah pihak mengkhawatirkan investasi asing akan mengambil alih perusahaan di tanah air.

Dalam sebuah acara diskusi Kopitalk Indonesia di Jakarta (1/3), dengan tema “Masa Depan Industri 4.0” yang dihadiri juga oleh CEO Blibli.com, Kusumo Martanto, dan Heru Sutadi sebagai Executive Director Indonesia ICT Institute. Menteri Kominfo, Rudiantara memastikan, masyarakat tidak perlu khawatir akan arus investasi asing yang masuk ke perusahaan digital rintisan atau startup Indonesia. Sebab para investor asing tidak mengambil alih jajaran pimpinan perusahaan.

“Startup itu bisnisnya memisahkan antara management dengan keuangan, jadi memang ketika investor masuk hanya sebagai pasif, hak vetonya tetap ada di founder, bahkan founder-nya tidak boleh keluar. Berbeda dengan bisnis konvensional gede-gedean saham dan duit, yang paling gede sahamnya yang jadi management.” ujarnya.

Lebih lanjut, Rudiantara menyebut ada startup yang gagal itu disebabkan beberapa hal yakni memang tidak fokus, model bisnisnya tidak jelas, kemudian tidak bisa menyelesaikan permasalahan di masyarakat dan kemudian ingin cepat kaya.

Rudiantara memberikan contoh bahwa founder startup yang betul, ialah yang tidak keluar, yang besar seperti Jack MA walaupun hanya memiliki saham sekitar 6% – 7% di Alibaba tapi counter-nya tetap ada di Jack MA.

“Nah ini juga yang berlaku untuk seperti yang saya katakan startup yang ada di Indonesia, jadi kita itu sebetulnya dengan derasnya modal asing bukan berarti kita tidak bisa apa-apa, yang untung masyarakat Indonesia. Uang kan miliaran dollar masuk, puluhan triliun, misalnya dipakai istilahnya dibakar untuk subsidi, subsidi apa? Subsidi kita naik Go-Jek, subsidi kita kirim Go-food, mau subsidinya hilang?” katanya.

Karena itu pemerintah sangat mendorong digital ekonomi karena telah membuka lapangan pekerjaan baru berbasis digital, lalu adanya share economy, dan juga meningkatkan inklusi keuangan, tambahnya.

Brands Finance Industry Startups

Bagaimana Nasib Fintech di Indonesia Ke Depan?

February 4, 2019

Perusahaan rintisan teknologi finansial (tekfin) atau biasa disebut financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending kini sedang berkembang pesat mewarnai industri keuangan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencatat, hingga Desember 2018 total pemain fintech yang terdaftar dan berizin sudah mencapai 88 entitas.

Tercatat jumlah pinjaman yang telah disalurkan pun hingga Oktober 2018 telah mencapai Rp15,99 triliun yang berasal dari 5,6 juta lender dan telah disalurkan kepada 2,8 juta borrower.

Dalam setiap perjalanan bisnis, pasti selalu ada jalan terjal yang mengintai. Dapat diambil contoh salah satu kasus yaitu perusahaan tekfin UangTeman kini sedang menghentikan penyaluran kredit di luar Jakarta. Sebanyak 13 kantor cabang UangTeman untuk sementara ini menghentikan penyaluran pinjaman.

Diketahui bahwa 13 kantor cabang tersebut berada di Bali, Balikpapan, Bandung, Bogor, Jambi, Lampung, Makassar, Malang, Palembang, Semarang, Surabaya, Tengerang, dan Yogyakarta.

Penghentian penyaluran pinjaman tersebut tertuang pada Surat Keputusan Direksi PT Digital Alpha Indonesia Nomor DAI/CEO/XI/2018/1184. Penghentian penyaluran kredit ini bersifat sementara agar kegiatan usaha tetap berjalan baik, lancar, dapat dipertanggungjawabkan dan mencapai target perusahaan. Selain itu juga disebabkan karena rasio kredit bermasalah di seluruh kantor cabang tidak menunjukkan pelaksanaan kegiatan usaha yang baik dan mencapai target perusahaan serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dari contoh kasus tersebut, perusahaan rintisan tekfin memiliki risiko yang besar dan diperlukan evaluasi bagi penyelenggara perusahaan. Hendrikus Passagi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK mengatakan bahwa kasus yang sedang melanda UangTeman karena masih pada fase peningkatan kualitas mesin kecerdasan buatan. Hendrikus berharap industri fintech juga segera melakukan penyesuaian mengenai rasio kredit bermasalah agar industri semakin sehat.

Lalu, bagaimana cara penyelenggara fintech lain agar tidak tertimpa kasus yang sama seperti pada perusahaan UangTeman? Tentunya itu akan menjadi sorotan agar dapat dijadikan pelajaran bagi penyelenggara fintech lain. Kemudian juga bagaimana cara menghindari risiko lain yang belum diketahui agar perusahaan tekfin tetap sehat dan memiliki umur yang panjang.

Business Economy Startups

Kopi Kenangan mendapatkan Rp121,6 M dari Alpha JWC Ventures

October 24, 2018

Alpha JWC Ventures menginvestasikan 121,6 milyar rupiah kepada Kopi Kenangan untuk kembangkan bisnis kopi di seluruh Indonesia. Bisnis kedai kopi berkonsep “grab and go” ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan telah memiliki 16 cabang di Jakarta. Dilansir dari Dailysocial, CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata mengatakan dana investasi tersebut akan digunakan tidak hanya untuk memperluas usaha Kopi Kenangan sendiri, tetapi juga untuk mendistribusikan kegiatan penelitian dan pengembangan aplikasi.

Edward menganggap Kopi Kenangan bukan hanya sebagai sebuah usaha kecil, tetapi juga hal yang dapat bertumbuh menjadi bisnis yang lebih besar dengan konsep ritel baru melalui teknologi.

Sementara itu, Founder and Managing Partner dari Alpha JWC Ventures, Jefrey mengatakan bahwa Alpha JWC akan mendukung teknologi untuk pengembangan dan percepatan bisnis karena teknologi memiliki peran penting dalam membangun sektor konsumen yang berkelanjutan. Pada usaha kopi seperti Kopi Kenangan, teknologi dianggap perlu digunakan untuk mempercepat suatu layanan.

Sebagai informasi, Kopi Kenangan menargetkan perluasan cabang hingga 30 lokasi di 2018 dan 100 lokasi di 2019 ke seluruh Indonesia. Menurut Edward, rata-rata penjualan Kopi Kenangan mencapai 175 ribu gelas per bulan. Untuk mendukung pertumbuhan Kopi Kenangan melalui konsep Ritel Baru, akan dilakukan melalui pengembangan aplikasi seluler, sehingga dapat konsep “Grab and Go” dinikmati hanya dengan menyentuh layar smartphone saja. Beberapa fitur telah dibuat, seperti pencarian toko, pre-order, dukungan pembayaran, dan lainnya.