Browsing Category

EVENT

Lifestyle

Kegembiraan Artis Berhijab di Konser Putih Bersatu

April 15, 2019

JAKARTA — Kegembiraan dan kemeriahan Konser Putih Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (13/4/2019) kemarin, terekam dalam media sosial para selebritis milenial berhijab.

Aktris cantik Zaskia Adya Mecca contohnya. Ia mengunggah sejumlah momen saat berada di panggung ajang dukungan bagi pasangan capres cawapres nomor urut 01 Joko Widodo dan Kiai Haji Ma’ruf Amin tersebut melalui akun Instagram-nya.

Mulai dari berfoto dengan vokalis Slank Akhadi Wira Satriaji alias Kaka, hingga pencipta lagu Jogja Istimewa Yogya Marzuki Mohammad alias Kill the DJ. Latar belakangnya, tentu kerumunan massa yang memenuhi GBK.

Momen menarik ketika istri sutradara Hanung Brahmantyo itu merekam insiden yang dialami Ayu Shita di atas panggung. Rambut Ayu nyangkut di kipas portabel yang ia bawa.

“Mohon maaf enggak bantuin. Saya bantu mengabadikan aja, gimana?” kata Zaskya yang tidak bisa menahan tawa atas insiden itu.

Ayu Shita hanya bisa pasrah. Sambil dibantu Yuni Sara melepaskan rambutnya yang melilit daun kipas, ia mengobati rasa malunya dengan mengatakan bahwa kejadian yang sama pernah dialami diva internasional Beyonce.

“Aku kayak Beyonce. Pernah kan dia nyangkut di fan?” kata Ayu.

Aktris berhijab lain yang turut memeriahkan konser, yakni Chaca Frederica. Sejak datang ke area konser, Chaca sudah merekam momen serunya di akun Instagram-nya.

Dari dalam mobil yang sedang berjalan dengan jendela terbuka, Chaca mengungkapkan kekagumannya atas militansi masyarakat pendukung Jokowi-Ma’ruf yang hadir.

“Bissmilahirrohmanirohim, pesta demokrasi. Masya Allha tabarrakallah,” ujar Chaca.

Ia pun sempat memberikan semangat kepada sesama pendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Yeeeeeaa…semangat semuanya. Masya Allah. Semangat, semangat,” ujar Caca lagi.

Di atas panggung pun sama hebohnya. Saat Jokowi dan Kiai Ma’ruf masuk ke area stadion, ia langsung mengarahkan kamera ponselnya ke pintu VVIP yang dilalui keduanya.

“Bapak, masya Allah, bissmillah bismillah, selamat berjuang Bapak,” pekik Chaca heboh.

-Membaca Fenomena Dukungan dari Milenial Berhijab-

Ulama pendukung Jokowi, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang angkat bicara mengenai banyaknya milenial berhijab yang mengekspresikan pilihan politiknya seperti Zaskya dan Chaca.

Menurut dia, hal ini merupakan hal yang positif. Sebab itu menunjukkan bahwa muslimah muda sudah sadar akan politik. Mereka tidak malu-malu menunjukkan dukungannya di media sosial.

TGB sekaligus mengapresiasi mereka lantaran dukungan tersebut menjadi bukti bahwa kaum muda Muslim tidak termakan berita hoaks, fitnah dan ujaran kebencian.

“Pendukung Jokowi-Ma’ruf adalah generasi baru muslimah muda Indonesia yang independen, artikulatif dan sangat menghargai ruang kreatif yang tercipa pada masa 4,5 tahun pemerintahannya Pak Jokowi,” ujar TGB kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Pendapat senada diungkapkan Ustaz Yusuf Mansur.

“Alhamdulilah, ini semakin menguatkan apa yang telah saya katakan sejak dahulu tentang ke-Islam-an Pak Jokowi,” ujar dia.

Justru, Ustaz Mansyur menilai, selama 4,5 tahun pemerintahan Jokowi justru memuliakan Islam melalui berbagai berbagai kebijakannya, salah satunya, yakni penetapan Hari Santri Nasional dan pendirian Bank Wakaf Miko.

Lifestyle Weekly Brief

Faisal Basri, Indonesia Negara Terbuka akan Informasi

April 11, 2019

Jakarta, 11 April 2019 – Ekonom Senior, Faisal Basri menyatakan negara Indonesia merupakan negara yang terbuka terhadap informasi. Sehingga semua lapisan masyarakat bebas berpendapat dan berbagi informasi.

“Salah satu konsekuensi hadirnya demokrasi di suatu negara adalah keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat. Siapa saja seakan boleh bicara apa saja sesuka hati,” ujarnya di acara Panggung Kabaret Tek Jing Tek Jing, Jakarta, Kamis (11/4).

Namun ia menegaskan dalam berbagi informasi, masyarakat Indonesia diminta untuk mengikuti prinsip-prinsip yang baik dan benar. Hal ini dilakukan agar informasi yang diberikan tidak mengandung hoak.

“Padahal di alam demokrasi atau bukan, prinsip-prinsip kepatutan tetap berlaku. Siapa saja memang boleh bicara apa saja, sejauh hal itu didukung oleh fakta dan data. Apalagi kalau pendapat itu disampaikan kepada publik. Demokrasi tanpa menghargai tatanan sosial (social order), bukanlah true democracy, karena kita akan berada “on the dark side of democracy.”.”

Ia menjelaskan bahwa mengumbar kebohongan dan perang omong kosong, serta fitnah dalam kontestasi politik sudah kian menjadi-jadi belakangan ini, termasuk di negara yang mengaku sebagai kampiun demokrasi. Oleh arena itu, tidak menjadi pembenaran bahwa hal itu memang boleh dilakukan atau suatu kewajaran di era post-truth.

” Jika kita menganggap wajar lalu pasrah menerimanya dan oleh karena itu harus menyesuaikan diri dengan realitas baru itu, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan terjadi pengeroposan dalam sendi-sendi bermasyarakat dan bernegara. Membiarkan bias kognitif merajalela sama saja dengan meredupkan kewargaan (citizenry) yang lambat laun mengikis peradaban. Manusia beradab adalah manusia yang memelihara free will-nya dalam bingkai tatanan sosial; jika tidak, maka kita sudah menurunkan harkat dan martabat kita sendiri.”

Lifestyle Weekly Brief

Arie Kriting: Hanya Jokowi yang Peduli Orang Timur

April 8, 2019

Jakarta, 8 April 2019 – Komika asal Indonesia Timur, Arie Kriting menyatakan bahwa Sepanjang Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla, masyarakat Indonesia bagian Timur dapat menikmati berbagai macam fasilitas infrastruktur.

“Saya mendukung, karna hanya pak Jokowi yang peduli orang timur,” kata Arie di Menara BTPN, Jakarta Selatan, Senin (8/4).

Ia menjelaskan di tahun-tahun sebelum masa pemerintahan Jokowi, masyarakat yang tinggal di bagian timur tidak memiliki kesempatan untuk merasakan fasilitas seperti di Jawa. Tapi semenjak pemerintahan Jokowi, wilayah Indonesia Timur dapat merasakan fasilitas tersebut.

“Dulu kampung saya engga punya bioskop, tapi 2 tahun kemarin sudah punya bioskop.”

Dijelaskannya bahwa adanya fasilitas tersebut, secara tidak langsung sudah membuka gerbang lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang tinggal di bagian timur. “Sehingga sekarang banyak masyarakat yang sudah bisa bekerja di bioskop,” ujarnya.

“Dulu saya mengkritik pemerintah karena tidak peduli dengan orang timur. Tapi sekarang sudah, makanya kami siap dukung yang sudah membantu mengembangkan Indonesia Timur.”

EVENT

Digitalisasi Buku dan Naskah, Ancam Eksistensi Ilmu Sosial-Humaniora?

March 19, 2019

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) yang begitu cepat sangat berdampak secara signifikan terhadap eksistensi perpustakaan. Tuntutan kemudahan akses informasi yang serba instan, terbuka, dan mudah diakses menjadi sebuah tantangan perpustakaan yang harus tanggap mengenai trend TIK, mengingat telah memasuki era revolusi 4.0.

Dalam sebuah diskusi publik yang bertemakan “Transformasi Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0” yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin (18/3), bahwa banyak yang mengira digitalisasi buku dan naskah merupakan sebuah ancaman eksistensi ilmu sosial dan humaniora pada masyarakat. Namun, Peneliti Pusat Penilitian Kewilayahan mengungkapkan bahwa ada dua pandangan yang mencoba menjawab hal tersebut.

“Pertama, sifat penelitian dan kerja ilmu sosial dan humaniora berbeda dengan kerja teknologi digital. Ilmu sosial dan humaniora bersifat reflektif sementara itu pendekatan teknologi bersifat linear dan mengikuti tahapan-tahapan yang rasional. Kedua, sifat ilmu sosial dan humaniora yang reflektif dan sifat teknologi digital yang rasional bukan tidak mungkin disatukan dalam kerangka kerja yang sama. Dengan catatan, ilmu sosial-humaniora mulai memikirkan persoalan-persoalan sosial dan humaniora yang bisa ditarik dari keberadaan data digital yang bersifat masif (big data).” Ujar Fadjar Ibnu Thufail

Lebih lanjut, digitalisasi sumber data ilmu sosial-humaniora amat sangat tidak mengancam keberadaan ilmu sosial-humaniora. Namun, ilmu sosial-humaniora dituntut untuk bisa mengembangkan tema kajian reflektif dengan memanfaatkan data digital.

Hendro Subagyo, Pelaksana tugas Kepala Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah LIPI menambahkan, bahwa digitalisasi koleksi di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI sudah berjalan sejak 2009 lewat digitalisasi jurnal dalam negeri yang disimpan dan dapat diakses publik.

“Saat ini telah terkumpul metadata sebanyak 382.568 artikel dari 14.801 jurnal ilmiah,” ujarnya

Di sisi lain, PDDI LIPI pun membuka peluang dengan berbagai pihak untuk percepatan digitalisasi karya ilmiah atau hasil penelitian.

“Kolaborasi kita harus ditingkatkan tidak hanya dilevel kerjasama yang sifatnya kebijakan politik dan sebagainya, tapi sampai level data,” tambahnya

Sebagai informasi, Diskusi Publik juga menghadirkan narasumber Direktur Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Jakarta, Marcus Wilhelmus Bellen, yang dikenal sebagai Marrik Bellen dan Yogi Hartono, Digital Aset Manager CNN Indonesia.

Lifestyle

Gaya Jokowi dan Iriana Saat Hadiri Festival Sarung 2019

March 4, 2019

Jakarta – Untuk melestarikan salah satu kain khas asal Indonesia, sebuah festival unik digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu 3 Maret 2019. Festival unik tersebut adalah Festival Sarung 2019 yang bertemakan ‘Sarung Sebagai Identitas Budaya Pemersatu Bangsa’.

Pada Festival Sarung Indonesia 2019 ini, Kementerian Koperasi dan UKM berperan menjadi lending sektor, bekerjasama dengan kementerian lainnya. Tidak hanya itu, Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM atau Smesco Indonesia ikut berpartisipasi dalam kegiatan festival tersebut.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, dan beberapa menteri lainnya.

Namun pada kegiatan Festival Sarung 2019 kali ini, ada hal menarik yang dilakukan oleh Presiden RI Jokowi, yaitu menggunakan sarung songket Donggala khas Sulawesi Tengah. Dengan dipadupadankan kemeja putih, Kain Sarung Songket Donggala ini terlihat lebih mencolok.

Kesan wibawa terlihat pada Jokowi yang mengenakan Kain Sarungberwarna merah maroon dengan motif berwarna hitam.

“Inilah kekayaan budaya kita yang kita harus tempatkan pada tempat yang paling baik sebagai penghargaan kita atas karya dan produksi setiap provinsi yang berbeda beda corak, berbeda motif, dan berbeda warna. Juga memiliki filosofi-filosofi yang tinggi “, kata Presiden dalam sambutannya pada acara Pameran dan Festival Sarung 2019 yang digelar di Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (3/3).

Jokowi menambahkan dirinya mengajukan agar di hari tertentu semua masyarakat Indonesia dapat mengenakan sarung bersama-sama. “Tinggal kita menentukan, kita pakai sarung di hari apa. Saya akan mengajak nantinya. Baru kita akan tentukan, setiap hari tertentu dalam satu bulan kita memakai sarung bersama sama. Bisa seminggu sekali. Bisa dua minggu sekali bisa sebulan sekali. Kita lihat nanti. Nanti lama-lama setiap hari pakai sarung”, tukas Presiden Jokowi.

Saat berkeliling area festival, Presiden mengaku melihat dari beberapa provinsi yang memiliki produksi sarung, baik berupa tenun, ada yang berupa songket, ada yang berupa batik, dan jenis2 sarung lainnya. “Inilah kekayaan budaya yang tidak dimiliki bangsa dan negara lain. Oleh karena itu, saya sangat menghargai Sarung Fest yang diadakan ini. Semoga kita memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap karya karya yang dipamerkan pada Festival Sarung 2029”, tandas Presiden Jokowi.

Tidak mau kalah, Ibu Negara Iriana Jokowi juga mengenakan kain khas Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan Kain Sarung berwana hitam disertai dengan motif garis merah dan kuning. Iriana terlihat lebih sporty, apalagi dikombinasi dengan ikat kepala, terlihat lebih kekinian.

Sementara itu, Ketua Umum Sarung Fest IGK Manila mengatakan, gelaran acara Festival Sarung 2019 merupakan kegiatan yang pertama kali tentang sarung Indonesia, yang bertujuan untuk untuk mengangkat dan meningkatkan kegemaran masyarakat Indonesia agar mereka menyukai dan bangga menggunakan sarung di Indonesia. “Juga untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan untuk para UMKM kita,” kata IGK Manila.

Ditambahkan bahwa kegiatan Festival Sarung 2019 tidak hanya dilakukan di Jakarta saja, tapi juga dilakukan dibeberapa kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

Dalam gelaran tersebut, diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya pasar rakyat, pameran sarung, fashion on the street berbasis sarung, karnaval sarung Indonesia, seminar dan sarasehan sarung. Yang tak kalah menariknya, acara itu juga dilaksanakan Lomba Foto Sarung Keren di media aosial (medsos) dengan tema ‘Sarung dan Negeriku. Serta digelar jalan sehat sarung di beberapa kota, musik, fashion, bazaar, dan parade serentak di 6 kota besar. Diantaranya di Jakarta, Surabaya, Kupang, Padang, dan Banjarmasin.

Lifestyle

Kain Sarung Belum Trend?

March 2, 2019

Jakarta – Salah satu desainer ternama asal Indonesia Samuel Wattimena mengaku diri belum memahami makna dari Kain Sarung. Namun dirinya menyatakan bahwa ia kagum dengan Kain Khas Indonesia tersebut.

“Ada hal yang perlu kita pedulikan bersama, saya tidak paham dengan makna kain tradisional. Tapi kekaguman saya tidak luntur,” ujarnya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (1/3).

Samuel menambahkan bahwa ketidak pahaman akan makna dari Kain Sarung dikarenakan kurangnya wawasan akan hal tersebut. Ketidak pahaman ini membuat desainer-desainer muda di Indonesia tidak terlalu mengerti akan cerita yang tertuang dari Kain Sarung, sehingga banyak dari mereka yang hanya membuat karya desainernya dengan menampilkan warna dan bentuk, tidak mengandung arti.

“Menurut saya kalau kita tidak memberikan wawasan dengan generasi milenial maka makna akan hilang. Desainer muda hanya memperkenalkan dari warna tidak makna maka ini krisis. Maka nilai budaya kita akan hilang. Dan jangan kemudian kita menyesal dan komplain produsen,” kata dia.

“Kain tradisional bukan hanya inspirasi tapi sebagai contoh di photo dan di print. Kalau itu semakin banyak terjadi maka pengrajin didaerah akan maju.” Tambahnya.

Samuel menambahkan bahwa untuk membuat Kain Sarung menjadi trend kedepannya, para desainer-desainer muda harus mampu menciptakan motif-motif baru. Sehingga Kain Sarung akan terus berkembang dan mampu bersaing dengan pasar fashion global.

“Hal itu harus ada kebijakan, untuk mulai menemukan motif baru. Agar ada perkembangan dengan motif lama. Kalau engga dikerjakan maka motif lama akan ditinggalkan. Karena motif tersebut tidak mencerminkan generasi muda.”

Lifestyle

Tiga Cara Kembangkan Fashion Kain Sarung

March 2, 2019

Jakarta – Salah satu kain khas Indonesia yaitu Sarung menjadi sebuah ciri khas Tanah Air untuk melangkah ke dunia fashion. Akan tetapi saat ini masih banyak anak-anak muda Indonesia yang enggan mengenakan sarung untuk sekedar jalan-jalan.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilman farid mengatakan ada tiga faktor yang harus dilakukan untuk memperkenalkan Kain Sarung ke anak muda saat ini. “Mengapa kita perlu menyebar luaskan sarung Indonesia? Melestarian budaya lndonesia. Karena sarung indentitas kita,” kata ia di Kemendikbud, Jakarta, Jumat (1/3).

Dijelaskan olehnya, cara pertama yang harus dilakukan adalah memberikan pengetahuan terkait sejarah Kain Sarung, hal ini dilakukan karena pengetahuan ini syarat untuk mengenai makna dan simbol apa yang sedang kita kenakan. Karena setiap bahan yg digunakan memiliki ceritanya.

Cara kedua dalam menghadapi tantangan global bagi Kain Sarung adalah dengan memahami sumberdaya yang tersedia. “Kita mampu (menghadapi tantangan global), lndonesia negeri yang tinggi hayati yang tinggi dan kebudayaan yang tinggi. Pengetahuan (budaya)
itu adalah sumber daya yang tidak akan ada habisnya,” ujarnya.

“Mengahadapai tantangan kita global, dengan cara kita sendiri. Dengan bakat-bakat anak- anak bangsa Indonesia yang terus menunjukkan kemajuan,” tambahnya.

Cara ketiga dengan mengikut sertakan pemerintah dalam kegiatan memajukan atau memperkenalkan Kain Sarung ke pasar global. “Apa yang harus dilakukan pemerintah? Kita ada di satu fase untuk memperbaiki tata kelola yang kurang ke urus dengan baik, karena belum ada aparatnya, hukum, dan undang-undang. Karena kebudaya masih di anggap dekorasi saja. Kemendikbud ini siap untuk membawa sarung Indonesia ke luar.”

Lifestyle Weekly Brief

Sarung Jadi Trend Fashion

February 28, 2019

Jakarta – Perkembangan dunia fashion di Indonesia dari tahun ke tahun selalu menunjukkan perkembangan. Apalagi saat ini banyak sekali desainer- desainer muda yang telah melalang buana ke pasar fashion luar negeri.

Tapi apakah kalian tahu? Fashion di Indonesia dapat terus menerus berkembang karena adanya sentuhan kebudayaan Tanah Air?

Ya memang salah satu ciri khas fashion di Indonesia adalah kebudayaannya, termasuk kain-kain khas negara Indonesia.

Salah satu kain khas tanah air ini, yang saat ini menjadi trend fashion adalah kain sarung. Mungkin beberapa orang berfikir kalau kain ini hanya digunakan untuk melaksanakan ibadah, tapi ternyata tidak.

Kain sarung saat ini menjadi salah satu trend fashion yang sedang berkembang di Tanah Air. Terbukti banyak sekali desainer kondang di Indonesia yang merancang karya busana mereka dengan dipadupadankan dengan kain tersebut.

Salah satu designer yang menggunakan kain sarung di karyanya adalah Philip Iswardono. Karyanya yang bertemakan ‘Ethnicode’ ini tampil di acara Jogja Fashion Week 2016, menampilkan sebuah busana elegan dengan menggunakan kain sarung yang menunjukkan ciri khas Indonesia.

Tidak hanya itu, anak-anak muda di Tanah Air juga banyak yang menciptakan fashionnya sendiri dengan menggunakan sarung. Apalagi Presiden RI Joko Widodo sempat menggunakan sarung saat kunjungannya di beberapa daerah di Tanah Air.

Hal ini menunjukkan bahwa kain sarung tidak akan pernah punah dan tertutup jaman. Sehingga dapat dinikmati dari berbagai golongan.

Brands EVENT Lifestyle

Bohemian Rhapsody Raih 4 Penghargaan Oscars The 91st Acamedy Awards

February 25, 2019

Film yang mengangkat kisah perjalanan salah satu band legendaris dunia “Queen” yang dibintangi Rami Malek, berperan sebagai sang vokalis Freddy Mercury ini berhasil meraih 5 penghargaan pada acara Oscars The 91st Academy Awards yang berlangsung di Dolby Theater, Hollywood, California.

Bohemian Rhapsody berhasil meraih 4 penghargaan yaitu dalam kategori best actor, film editing, sound editing, dan sound mixing. Selain itu, dua film garapan Yorgos Lanthimos seperti The Favourite dan dari Netflix Roma masing-masing berhasil meraih 10 nominasi.

Sementara itu juga film ini masuk dalam nominasi best picture, lalu 2 film terbaik dari komik Marvel yaitu Black Panther dan BlacKkKlansman, kemudian ada A Star is Born, dan Vice. Pemenang nominasi best picture ini sendiri adalah film Green Book.

EVENT Weekly Brief

Kehidupan Dunia Tidak Murni?

February 13, 2019

Jakarta – Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid mengatakan bahwa dunia ini tidak memiliki kehidupan yang murni. Hal ini disebabkan banyaknya golongan-golongan yang berniat menghancurkan sebuah persatuan.

“Jadi maksud saya, kita berada di satu situasi bahwa dunia ini tidak dapat di jaga satu tempat itu pure. Sehingga the face of the future. Ini yang menggambarkan anak-anak milenial,” ujarnya di Universitas Paramadina, (13/2).

Tapi ia menambahkan bila globalisasi yang saat ini terjadi menimbulkan sebuah persatuan yang cukup ketat dan beberapa poin yang harus dihadapi. “Globalisasi membuat kita menjadi lebih menyatu, tapi pada saat yang sama kita menghadapi yang berbeda-beda itu menjadi satu.”

Sementara itu Alissa mengungkapkan bahwa saat ini, di Indonesia banyak kelompok yang mendahulukan sebuah persamaan antar manusia. “Di indonesia ada kelompok-kelompok yang mendahulukan kelompoknya. Kelompok-kelompok alasannya sederhana. Ini mempertahankan kesucian dan kemurnian negaranya oleh kelompoknya. Kalau di myanmar kelompok garis keras yang mengeluarkan tindakan keras,” ungkapnya.

“Lalu yang kayak gini ada di indonesia 2045 ada tiga sekenario si apakah Afganistan, Pakistan, atau Banglades.”