News

Ratu Elizabeth II Meninggal, Era Raja Charles III Dimulai

September 9, 2022

Jakarta– Pemimpin Kerajaan Inggris terlama di dunia, Ratu Elizabeth II meninggal dunia pada usia 96 tahun setelah mengalami masalah kesehatan sejak Oktober tahun 2021. Wanita yang bernama asli Elizabeth Alexandra Mary Windsor itu telah memimpin lebih dari 7 dekade.

Kabar meninggalnya Ratu Elizabeth II disampaikan langsung pihak kerajaan pada Kamis (8/9) sore waktu setempat atau Jumat (9/9/2022) dini hari waktu Indonesia. Menjelang kepergian Sang Ratu, seluruh anggota keluarga terdekat berkumpul di Istana Balmoral di Aberdeen, Skotlandia. Tim dokter sebelumnya menyatakan kondisi kesehatan Ratu Elizabeth II menurun dan dalam pengawasan medis ketat.

“Ratu meninggal dengan tenang di Istana Balmoral sore ini,” cuit The Royal Family.

Kabar tersebut memberi duka mendalam bagi masyarakat Inggris bahkan dunia. Pastinya, masyarakat Inggris akan menjalani masa berkabung. Bendera kebangsaan Inggris diturunkan setengah di berbagai gedung negara untuk memperingati belangsungkawa tersebut.

Adapun, di luar Istana Buckingham di London, ratusan pelayat telah berkumpul untuk meletakkan bunga dan memberi penghormatan untuk sang Ratu.

Pangeran Charles secara otomatis naik takhta menjadi Raja Inggris setelah Ratu Elizabeth II meninggal. Memiliki nama lengkap Charles Philip Arthur George dan lahir di Istana Buckingham pada 14 November 1948, Charles bakal dikenal sebagai Raja Charles III.

Raja Charles akan menjadi pemimpin kerajaan Inggris dan 14 negara Alam Persemakmuran, termasuk Australia dan Kanada dan juga menjadi kepala dari 56 negara yang menjadi anggota persemakmuran.

Raja Charles juga mengemban tanggung jawab sebagai Kepala Angkatan Bersenjata Inggris, pengadilan, dan layanan public dan menjadi Gubernur Tertinggi Gereja Inggris. Selain itu, bertanggung jawab juga sebagai Fount of Honour yang berarti semua gelar kehormatan, seperti ksatria, akan diberikan atas namanya.

Bagi Pangeran Charles, kepergian sang ibu sebagai momen kesedihan terbesar bagi dirinya dan keluarga Kerajaan. “Kematian Ibu saya yang terkasih, Yang Mulia Ratu, adalah momen kesedihan terbesar bagi saya dan semua anggota keluarga saya,” ucapnya.

Sebagai informasi, jenazah Ratu Elizabeth II akan disemayamkan di Westminster Hall. Akan ada upacara singkat untuk menandai kedatangan peti mati, setelah itu orang-orang dapat melewati dan memberi penghormatan.

Kematian Sang Ratu Terjadi di Tengah Suramnya Ekonomi Inggris

Brand Finance pada 2017 memperkirakan monarki Inggris berkontribusi terhadap ekonomi Inggris sebesar 1,7 miliar poundsterling atau setara Rp 29,3 triliun (kurs rata-rata 2017). Nilai dari monarki Inggris sendiri diperkirakan mencapai 67,5 miliar pounds.

Nilai tersebut terdiri atas aset benda seperti perkebunan, mahkota hingga koleksi permata kerajaan mencapai 25,5 miliar pounds. Mayoritas berupa aset tak benda senilai 42 miliar pounds berapa kontribusinya terhadap ekonomi Inggris selama bertahun-tahun.

Kepergian Ratu Inggris tersebut di tengah ekonomi Inggris yang menghadapi ancaman resesi. Inggris merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedua di benua biru. Inggris juga sedang menghadapi transisi politik dengan terpilihnya perdana menteri baru. 

“Perdana menteri yang akan datang akan berurusan dengan ekonomi yang menghadapi risiko resesi tinggi,” kata Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global Market Intelligence Chris Williamson dikutip dari The Guardian, Senin (5/9).

Perekonomian Inggris terkontraksi 0,1% pada kuartal kedua, setelah kuartal pertama berhasil tumbuh tipis 0,8%. Jika kuartal ketiga kembali terkontraksi, maka Inggris resmi memasuki resesi pada kuartal keempat atau pada akhir tahun ini. Risiko resesi meningkat seiring inflasi di Inggris yang terus naik. Inflasi bulan Juli mencapai 10,1%, pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir melampaui level 10%.

Di sisi lain, selama kurang lebih 12 hari setelah kematian Sang Ratu, diprediksi aktivitas di Inggris akan terhenti, sesuatu yang berpotensi menyebabkan miliaran pendapatan ekonomi Inggris akan hilang.

Disebutkan bahwa semua urusan parlemen, “termasuk pertemuan terjadwal dari Komite Terpilih dan Kelompok Parlemen Semua Bagian,” akan ditunda hingga setelah 21 September 2022. Banyak aktivitas bisnis di Inggris pun akan tutup sebagaimana yang terjadi saat kematian Putri Diana pada tahun 1997 silam.