News

Wall Street Tumbang, Imbas Data Inflasi di Bawah Ekspektasi

September 15, 2021

Jakarta, 15 September 2021- Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street jatuh pada Selasa (14/9) malam, setelah data inflasi inti secara bulanan maupun tahunan pada Agustus 2021 terlihat melemah.

Secara bulanan inflasi inti hanya naik 0,1% atau di bawah konsensus 0,3% dan secara tahunan hanya 4% di bawah konsensus 4,3%. Inflasi inti di Amerika Serikat (AS) adalah harga barang selain bahan bakar minyak (BBM) dan volatile food yang dibayar oleh konsumen.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi menilai kondisi ini sedikit banyak membenarkan ekspektasi Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell bahwa kenaikan inflasi tinggi hanyalah sementara alias transitory.

“Tapi kondisi ini juga yang mungkin akan membuat The Fed berpikir ulang untuk memgumunkan kapan tapering dimulai pada rapat FOMC pada minggu depan (21-22 September). Kita sudah memperkitakan penurunan angka inflasi inti di AS,” ujarnya.

Menurut Edhi, data ekonomi yang mungkin melemah dan harapan para investor berpotensi akan berubah di masa mendatang. Namun, lanjut Edhi, pihaknya belum melihat pergerakan indeks Dow Jones, S&P 500 atau Nasdaq sudah keluar dari upward trending-nya.

“Kita tahulah bahwa global fund dalam 6 bulan terakhir masuk ke Wall Street dengan “menghindari” saham blue chip dan mid-caps dan beralih lebih banyak ke saham teknologi, pelayanan kesehatan, biotechnology, dan real estate,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Edhi memperkirakan global fund–dengan posisi kelebihan likuiditas- saat ini masih akan tertarik berinvestasi di pasar Wall Street yang kapitalisasi pasarnya saat ini delapan kali lebih besar dari pasar negara manapun di dunia.

Lalu, seperti apa dampaknya terhadap IHSG?

Menurut Edhi, IHSG sejak awal 2021 belum banyak menunjukkan kinerja hebat dan hanya naik sekitaran 2,5%. Dana asing selama September 2021 sudah masuk di atas Rp1,5 triliun atau selama 2021 masuk sekitaran Rp23 triliun.

“Bandingkan sama net sell asing 2020 sebesar Rp47 triliun dan September 2020 saja Rp1,5 triliun. Jadi saya melihat kemungkinan dana asing dan aseng akan happy jika investor lokal berjualan supaya mereka bisa menambah aset saham Indonesia di harga lebih murah. Dan harus ingat pula di Q4, investor global biasanya suka dengan Santa Rally yang biasanya dimulai pada pekan kedua Oktober,” tutupnya.