News

Rektor Al Azhar Indonesia Sebut Merger Bank Syariah Bikin Nasabah Lebih Yakin dan Tenang

July 6, 2020

Jakarta, 6 Juli 2020 — Ide penggabungan bank syariah plat merah pada 2021 yang diwacanakan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir kembali mendapatkan respon positif. Kali ini respon tersebut muncul dari Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc.

Prof. Asep Saefuddin yang juga menjadi Guru Besar IPB mengatakan wacana yang dilakukan oleh Kementerian BUMN merupakan tindakan yang tepat.

“Merger perbankan syariah memang harus dilakukan untuk memberi keyakinan kepada nasabah akan pelaksanaan konsep-konsep syariah dengan benar. Sehingga tidak sekedar label,” ujarnya.

Lebih lanjut Asep menjelaskan bahwa penggabungan bank-bank syariah nantinya akan menguntungkan nasabah dari sisi kemudahan dan ragam layanan perbankan.

“Untuk itu penggabungan secara psikologis akan membantu nasabah menjadi lebih fokus. Sehingga nasabah bisa memilih satu bank syariah, ketimbang saat ini banyak pilihan dan cenderung kompetetif antar bank syariah. Saya rasa itu tidak baik.”

Ia juga menegaskan penggabungan bank syariah ini juga harus mengikuti prinsip-prinsip ekonomi Islam (syariah), serta meningkatkan profesionalitas dalam pengelolaannya.

“Dengan demikian merger akan meyakinkan nasabah dan membuat mereka lebih tenang.”

Dalam laporan kinerja Q1 dari ketiga bank syariah milik negara yaitu BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri tercatat bahwa ketiga bank tersebut mampu bertahan dalam kondisi krisis dan melewati awal tahun 2020 dengan hasil kinerja positif.

BNI Syariah yang bergerak dalam sektor consumer goods dan fokus pada anak muda, serta dan memiliki infrastruktur di level internasional baru saja menjadi Bank Buku-III pada kuartal pertama tahun serta berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar. Kemudian BRI Syariah yang berfokus pada sektor pemberdayaan UMKM dan Kredit Mikro Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74% menjadi Rp 20,5 triliun. Lalu BSM yang fokus pada retail dan transaksi digital komersial membukukan laba bersih sebesar Rp 368 miliar pada kuartal I-2020 dimana angka tersebut naik 51,53% dibanding periode yang sama tahun lalu (yoy).